Kedatangan Layvin Kurzawa ke Persib Bandung pada paruh musim BRI Liga 1 2025/2026 sempat memicu ekspektasi tinggi. Statusnya sebagai mantan pemain Timnas Prancis dan jebolan klub elite Eropa membuat banyak pihak menanti kontribusi signifikan di lini pertahanan Maung Bandung.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Hingga pertengahan musim berjalan, peran Kurzawa masih sangat terbatas dan belum mampu memberikan dampak berarti bagi permainan Persib.
Minimnya Menit Bermain Jadi Sorotan
Fakta paling mencolok adalah minimnya menit bermain yang didapatkan pemain berusia 33 tahun tersebut. Sejak resmi bergabung, Kurzawa baru tampil dalam lima pertandingan, dan seluruhnya dimulai dari bangku cadangan. Bahkan, dalam setiap penampilannya, ia belum pernah bermain lebih dari 20 menit dalam satu laga.
Secara rinci, menit bermain Kurzawa tercatat sangat singkat: 17 menit saat menghadapi Madura United, 16 menit kontra Persik Kediri, dua menit melawan Borneo FC, lima menit ketika menghadapi Semen Padang, serta tiga menit saat melawan Bali United.
Kondisi Fisik dan Adaptasi Jadi Kendala
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, mengingat pengalaman dan reputasi Kurzawa di level Eropa. Banyak pihak mempertanyakan kesiapannya bersaing di kompetisi Indonesia atau apakah ia masih membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.
Faktor utama yang memengaruhi situasi ini adalah kondisi fisik sang pemain. Kurzawa diketahui datang ke Persib dengan riwayat cedera otot yang cukup mengganggu pada musim sebelumnya. Selain itu, ia juga sempat tidak memiliki klub dalam beberapa waktu, yang berdampak langsung pada kebugaran dan ritme permainannya.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, turut memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap pemain membutuhkan waktu berbeda untuk mencapai performa terbaik, terutama bagi mereka yang tidak menjalani pramusim bersama tim.
“Setiap pemain membutuhkan waktu berbeda untuk mencapai performa terbaik, terutama bagi mereka yang tidak menjalani pramusim bersama tim,” ujar Bojan Hodak. Menurutnya, proses adaptasi tidak bisa disamaratakan. Ada pemain yang cepat menemukan ritme, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali ke level terbaiknya.
Situasi yang dialami Kurzawa saat ini menjadi gambaran bahwa nama besar tidak selalu menjamin kontribusi instan di lapangan. Adaptasi, kondisi fisik, serta kesiapan mental tetap menjadi faktor penting dalam menentukan performa seorang pemain di level kompetisi mana pun.




