Kai Havertz muncul sebagai penyelamat Arsenal setelah gol penaltinya di menit-menit akhir pertandingan memaksa Bayer Leverkusen berbagi angka 1-1. Laga sengit yang berlangsung di BayArena pada Kamis, 12 Maret 2026, ini diwarnai drama gol cepat di babak kedua dan penalti penentu.
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, kedua tim menampilkan permainan agresif. Arsenal berupaya menguasai lini tengah dan memanfaatkan kecepatan para pemain sayapnya, sementara Leverkusen mengandalkan serangan balik cepat yang beberapa kali mengancam pertahanan tim tamu. Namun, hingga jeda turun minum, skor kacamata tetap bertahan.
Drama Gol di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, kejutan langsung terjadi. Baru satu menit setelah jeda, Bayer Leverkusen berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari sepak pojok yang diambil oleh bek sayap Alejandro Grimaldo, bola melambung ke tiang jauh.
Gelandang Robert Andrich berhasil melepaskan diri dari kawalan pemain Arsenal. Dengan sundulan keras yang tak mampu diantisipasi kiper David Raya, bola bersarang mulus di gawang Arsenal. Gol tersebut membuat BayArena bergemuruh, dan Leverkusen unggul 1-0.
Tertinggal satu gol, Arsenal tidak menyerah. Tim asal London itu meningkatkan intensitas serangan, terutama dalam 15 menit terakhir pertandingan. Usaha keras mereka akhirnya membuahkan hasil menjelang waktu normal berakhir.
Pada menit ke-89, wasit menunjuk titik putih setelah pelanggaran terjadi di kotak penalti Leverkusen. Kai Havertz maju sebagai algojo. Dengan tenang, ia melepaskan tendangan yang mengecoh penjaga gawang tuan rumah, mengubah kedudukan menjadi 1-1 dan menyelamatkan Arsenal dari kekalahan.
Formasi dan Strategi Kedua Tim
Dalam pertandingan ini, Arsenal menerapkan skema 4-2-3-1. Viktor Gyökeres dipercaya sebagai ujung tombak tunggal, didukung oleh trio penyerang Bukayo Saka, Eberechi Eze, dan Gabriel Martinelli yang secara bergantian mencoba membongkar pertahanan Leverkusen.
Di sisi lain, Bayer Leverkusen menggunakan formasi 3-4-2-1. Christian Kofane diplot sebagai penyerang tunggal di lini depan, dengan dukungan kuat dari lini kedua yang membuat permainan tuan rumah terlihat lebih kompak baik saat menyerang maupun bertahan.




