Bulan suci Ramadan kembali membawa berkah melimpah bagi para petani timun suri di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. Peningkatan permintaan yang signifikan menjelang dan selama puasa telah mendongkrak harga jual, memungkinkan petani meraup omzet fantastis dari setiap kali panen.
Timun suri, dengan rasanya yang segar dan kandungan airnya yang tinggi, menjadi salah satu primadona takjil berbuka puasa. Kondisi ini menciptakan peluang rezeki yang besar bagi petani di wilayah Majalengka.
Yamin, seorang petani timun suri dari Desa Sukakerta, Kertajati, mengungkapkan bahwa hasil panen tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. “Meskipun sempat terkendala cuaca, namun produksi tetap stabil dan harga awal Ramadan tergolong tinggi,” ujar Yamin.
Dengan mengelola lahan seluas enam hektare dan modal sekitar Rp 100 juta, Yamin mampu memanen hingga tujuh ton timun suri per hari. Hasil panen ini kemudian didistribusikan ke berbagai kota besar seperti Bandung, Tasikmalaya, dan Jakarta, menghasilkan omzet sekitar Rp 35 juta untuk sekali panen.
Tak hanya petani, konsumen pun turut merasakan manfaat dari keberadaan kebun timun suri ini. Yayat, salah seorang pembeli, memilih untuk datang langsung ke kebun karena alasan harga yang lebih terjangkau dan kesegaran buah yang terjamin. “Harga di kebun sekitar Rp 5.000 per kilogram, jauh lebih murah dibanding di pasaran yang bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram,” jelas Yayat.
Timun suri sendiri merupakan buah musiman yang lazim ditanam menjelang Ramadan. Buah ini dikenal mudah dibudidayakan dan sangat fleksibel diolah menjadi berbagai hidangan populer untuk berbuka puasa, mulai dari es buah, kolak, rujak, hingga manisan.




