Firasat

  • Bagikan
firasat
Ilustras:(Gerd Altmann dari Pixabay)

Kilatnews.co – Entah mengapa Bapak tetap kekeh ingin merenovasi rumah padahal Bapak tahu kondisi keuanganku sangat tidak memungkinkan untuk itu. Aku ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Sedangkan suamiku hanya karyawan swasta. Kehamilan terakhirku pun bermasalah. Aku bolak balik periksa ke bidan hingga janinku tak terselamatkan saat usia tiga bulan. Aku pun baru saja melakukan kuret di rumah sakit. Praktis keuangan kami habis untuk pengobatanku.

” Aku tak akan merepotkanmu, nduk. Aku juga tahu kondisimu saat ini. Bapak akan merenovasi dengan uang seadanya. Genteng, kayu, reng, usuk sudah ada. Bapak pun tukang. Tak keluar uang banyak. Mungkin butuh uang sedikit hanya untuk makan para tukang dan kuli saja,” jelas Bapak padaku.

Entah mengapa, menurutku Bapak tak seperti biasanya. Di rumah hanya tersedia bahan bangunan ala kadarnya. Bapak jika mau membangun rumah atau apapun itu serba perfect. Harus sempurna. Bahan-bahan pun harus sudah tersedia dan memiliki kualitas yang sangat bagus. Itu mungkin hanya pikiranku. Sekarang akan memasuki musim hujan. Genteng sudah bocor di mana-mana. Itu mungkin yang menjadi pertimbangan Bapak untuk merenovasi rumah.

Renovasi pun dimulai. Dengan dana yang seadanya, Bapak merenovasi rumah dengan dua orang temannya. Sementara aku dan keluarga pindah ke rumah simbahku yang kosong.

Renovasi rumah tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu waktu dua minggu, renovasi itu sudah selesai. Bapak dan temannya memang tukang senior. Jadi Bapak paham betul dengan bangunan.

” Nduk, setelah ini Bapak mau ke Kalimantan. Nyusul Pak Lekmu. Katanya di sana ada kerjaan. Tolong anaknya dirawat dengan baik. Kalau di rumah, tolong dijaga kesehatannya. Dijaga badannya. Biar sehat selalu. Dieman awake. Mungkin ini kerja yang terakhir di sana. Bapak hanya mencari uang untuk pegangan bapak di hari tua dan buat beribadah. Rencana Bapak mau umrah,” pamit Bapak padaku. Aku hanya menggangguk tanda mengiyakan.


Setahun kemudian, Bapak pulang dengan kondisi berbeda. Badannya lemah. Untuk berjalan saja sudah sesak napas. Bagian lehernya juga terdapat benjolan. Saat kuperiksakan ke dokter, katanya terdapat cairan memenuhi organ paru-paru Bapak.

Kondisi Bapak lama-lama semakin ngedrop. Akhirnya Bapak masuk rumah sakit. Suami dan kakak laki-lakiku yang menemaninya di sana. Aku di rumah, menjaga sulung dan kedua balitaku.

Kondisi Bapak semakin lemah. Aku diminta menunggu Bapak. Saat ke rumah sakit, ternyata kondisi Bapak sudah koma. Tidak sadarkan diri. Selang oksigen sudah berada di hidungnya. Pernapasan di dadanya pun semakin melemah.

Aku gugup. Aku ke ruang dokter jaga dengan tertatih. Aku meminta dokter untuk ke ruangan Bapak.

” Mbak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ternyata di paru Bapak ada benjolan yang mengeluarkan air terus menurus. Meskipun air sudah dikuras, air ini akan tetap saja muncul kembali. Ini kondisi Bapak sudah koma dan lemah. Kami mohon maaf,” ucap dokter itu dengan sedih.

Aku semakin tak tega melihat Bapak. Napas Bapak pun semakin lemah. Kuucapkan di telinga beliau asma Allah untuk mengiringi naza’nya. Tak lama kemudian Bapak sudah menghembuskan napas terakhir.

Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun,” ucapku dalam hati, sambil terisak pelan.


Sekarang aku di sini. Tersadar dengan kata-kata Bapak setahun yang lalu untuk menjaga anakku dengan baik, menjaga diriku sendiri agar tidak terlalu kelelahan. Dieman awake. Kata itu kembali tergiang di telingaku.

Renovasi rumah ini pun sama. Bapak mungkin sudah merasa akan meninggalkanku. Beliau tahu, tak mungkin aku tidak merenovasi rumah ini, mengingat suamiku hanya karyawan swasta, sedangkan aku hanya ibu rumah tangga. Sebelum Beliau tiada, beliau masih memikirkanku dan ketiga anakku dengan merenovasi genteng rumah ini. Bila belum direnovasi, mungkin rumahku akan bocor dimana-mana saat terjadi hujan lebat.

Begitulah orang tua. Mereka selalu menyayangi anak mereka. Hingga di batas usia pun, hingga kapanpun kasih sayang mereka tak akan pernah berhenti.


Roifah El Mursidi, Penulis adalah nama pena dari Miftahur Roifah. Ibu rumah tangga berusia 35 tahun ini merupakan peserta Forum Belajar Menulis Cerpen (FBMC) Bersam DNF. Saat ini Roifah bersama keluarga kecilnya tinggal di Kediri, Jawa Timur.

  • Bagikan