Cinta dalam Jejak

  • Bagikan
Cinta dalam Jejak
Ilustrasi: Andrea Baratella dari Pixabay

Cinta dalam Jejak

Oleh : Muhtadi.ZL

Kilatnews.co- Setiap kali kau melihatku berjalan, sorotan matamu tampak menyimpan kenangan begitu dalam. Keserasian dan kemiripan serasa menyatu di retina matamu, lebih-lebih pada rasa yang pernah kuakrabi dan sekarang menyisakan sakit yang menggenang. Banyak hal yang ingin kugali dari sorotan matamu. Seolah ada bibit perasaan di ceruk dadamu yang sengaja kau tanam.

Banyak yang kuhafal dari gerak-gerikmu ketika awas menatapku. Satu hal kebiasaanmu yang mengakar di kepalaku. Kau tak jemu membuntutiku dengan sorotan matamu. Langkahmu lebih pelan dari langkahku. Tatapanmu tajam mengamati setiap jejak yang kutingalkan. Aku tidak tahu apa maksudmu melakukan kekonyolan itu, dan aku tak mengubrisnya, justru terus berjalan dan mengikat pandang pada sorotan matamu yang menyimpan kemisteriusan. Seperti ada rasa yang ingin kau utarakan, atau selain dari itu, yang pasti ada sesuatu bergejolak di lubuk hatimu, dan aku merasakan dari sorotan itu.

Aku merasa bahagia saat kau kerap mengekoriku dengan tatapan misterius itu. Tatapan yang setiap pagi, siang, dan malam selalu kutemukan. Sebenarnya aku canggung bila kau terlalu sering melakukan itu. Tapi jika itu membuatmu bahagia, kenapa harus kusingkirkan? Entah dilangkah keberapa, tubuhku sedikit tenggelam ke dasar tanah. Sehingga tanah yang agak basah menepel di tubuhku. Aku tercengang ketika tepat dilangkahku yang sangat tampak itu, kau diam, memaku pandang pada bekas jejakku. Aku bingung, teramat bingung. Keyakinanku terhadap mata misteriusmu semakin membuncah. Kau tak menoleh sedikitpun. Penasaranku berpacu kencang saat kau berjongkok di belakang bekas jejakku yang agak tenggelam itu.

Baca Juga: Gadis yang Tak Dilahirkan untuk Mengabdi Kepada Ketakutan

Berbagai tanya semakin berkeliaran di benakku, lebih pasnya aku tidak percaya dengan tingkahmu yang memilih mematung di bekas jejakku? Kau tidak lagi mengekoriku, tak lagi menatapku, tak lagi mengikat dengan tatapan misterius itu. Aku bingung. Sungguh! Perasaan itu seolah hadir kembali, sembari membujukku untuk mengingat kenangan dimana aku pernah berpisah dengan seseorang yang teramat kusayang. Bisa jadi, ia orang yang kau hormati di tempat ini.

Pelan aku semakin jauh darimu, jauh…. Sampai kau tidak terlihat olehku akibat hilir-mudik kaum sarungan. Aku tidak percaya hal ini benar terjadi, setelah mimpiku beberapa tahun silam. Harapanku, pertemuan ini bukan yang terakhir, justru awal yang tak mengenal akhir, meski itu nihil terjadi, tapi apalah jika aku berharap banyak. Sebab kau yang sabar mengejar dan aku yang selalu berjalan meninggalkan. Dari muara rasa di dalam tubuhku, aku tidak bisa meninggalkan dirimu yang kuat bertahan dalam  ke-tinggal-lan.

Tapi, apalah daya, aku hanya bertahan dari sakit meninggalkan dan berat dilupakan. Kau terlanjur abadi dalan angan, meski aku tak memiliki pikiran seperti yang kau punya.

Aku terhenyak tatkala tangan meyentuh tubuhku untuk membersihkan tanah basah yang menempel itu. Aku tidak lagi diinjak dan pengapku kembali melega. Tangan itu membalikkanku yang tadinya menghadap selatan sekarang menghadap utara. Dan aku tidak tahu maksud tangan ini apa? Tapi, ia sudah berkali-kali melakukan hal itu padaku. Aku geli, apalagi itu bukan kamu.

***

Beberapa bulan di tempat ini. Banyak hal baru yang menghampiriku. Dari saking banyaknya, aku tak bisa mengutarakan pada teman sebayaku. Apalagi perasaanku yang serasa terlahir kembali semenjak ada di tempat yang penuh dengan dzikir-an ini. Di tempat yang penuh dengan orang-orang pencari ilmu yang bermahkotakan peci ini, terlalu banyak hal baru di luar nalarku. Bisa jadi, aku menjadi orang bodoh di tempat titisan wali ini. Mulai cerita bijak yang lebih bijak dari segala cerita, tangis agung yang lebih mulia dari segala tangis, tawa ceria yang lebih dari segala tawa, dan rindu perdu yang lebih dari segala rindu. Dan senyum yang lebih. Ah! Aku tak bisa menarasikannya.

Di tempat ini, banyak yang berbeda dengan yang pernah kualami selama hidup ini. Apalagi semuanya dilakukan sendiri-sendiri.

Bila tidak ada pekerjaan yang mendesak, seperti biasa, setelah adan asar dikumandangkan, aku akan duduk di serambi masjid bagian utara. Di sana aku menunggu kau dengan segala rasa bahagia, meski membosankan, bagiku tak masalah, karena ini sekadar rasa yang tidak harus memaksa realita agar menyatukan kita. Kau datang, aku bahagia. Kau tidak datang masih ada bekas jejakmu yang kututupi dengan pecahan keramik beberapa hari lalu. Bagiku itu sudah cukup menambat rindu dan temu yang menjalar tak tentu.

Akhirnya, di sore hari yang tidak begitu gersang, kau benar-benar tidak datang dan mengudang cemas yang merindang. Aku takut ketidakhadiranmu ada sebab dan doaku bukan karena musibah. Membayangkannya, aku tak sanggup untuk berangan lebih jauh. Aku tak ingin mendoakanmu dengan hal seperti itu.Tapi pertanyaanku, kau kemana?

Baca Juga: Firasat

Kerena tidak mau larut dalam ketidakhadiranmu yang bermetamorfosis sedih. Aku memilih untuk mendatangi bekas jejakmu yang kututup dengan pecahan keramik. Aku tidak kuat menahan ribuan tanya dalam kepala. Sebab itulah aku memilih untuk mendatangi bekas jejakmu yang semoga saja tidak tertelan tanah. Jika bekas jejakmu hilang, maka tidak akan ada lagi tempat bagiku sebagai pengadu rindu  yang membelukar dan menjalar liar.

Seandainya, bapakku tidak mengatakan demikian, bahwa dikenal dan mengenal kau itu akan seperti ini, mana mungkin aku bersaksi tiada rasa yang harus aku semayamkan kecuali padamu yang terlanjur menjadi pujaan. Tidak heran bukan, bila aku selalu ingin dilihat dan melihatmu yang menjadi segala cahaya bila kegelapan angan
bertandang menyelimuti imajinasi.

Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, meski pada akhirnya—entah di hari keberapa—aku tak bisa melihatmu untuk yang kesekian kali. Dan untungnya di hari yang entah kebrapa pula ini, aku menemukan jejakku yang kutengarai terlanjur menjadi muara temu paling lucu. Sebab setiap melihat jejakmu. Anganku berimajinasi pemilik jejak itu ada di depanku, menghalangiku memandang alam luas meski tak seindah yang menghalangiku. Aku menunduk dan tersenyum ria sewaktu menatap bekas jejakmu. Sungguh rasa ini menjadi jeruji yang membatasiku pada rasa betah yang murah tegur sapa.

Masih lamat memandang bekas jejakmu sambil berimajinasi tak henti-henti. Seketika aku teringat pesan bapak yang mengajariku untuk tangguh dalam bertahan menahan gelombang rasa.Termasuk keacuhanmu yang aku sendiri tidak tahu sebab apa. Teramat banyak anak-pinak tanya dalam kepalaku. Jika kau berkenan, jawablah satu saja agar mengurangi beban yang kutanggung ini.

“Batu karang yang kokoh mampu dikikis oleh deburan ombak?” Ucap bapak ketika kami duduk di teras rumah menikmati hari-hari tua.

Sekali lagi, aku tersenyum melihat bekas jejakmu yang melukiskan wajah yang sukar aku tatap. Mungkinkah ini rasa yang disebut pembuat irigasi di hatiku? Aku tak sanggup mengkultuskannya. Barangkali kau bisa memberikan penjelasan, karena kau juga mengalami.

Kehadiran bekas jejakmu menjadi jimat penyemangat untuk penghindar dari aliran sesat yang mengajariku tidak taat pada peraturan dan godaan bolong salat. Bukan itu saja faidah yang menimpaku ketika menanam rasa ini. Lebih beruntung aku bisa bertahan dari pandangan selain memandangmu.

Aku berutung diperkenankan mengenalmu dengan alasan yang sangat tidak masuk akal bagi pujangga sepertiku.

***

Pikiranku semakin kejam mengingatmu. Buah tanya di benakku, yang belum berani jatuh ke permukaan, terlanjut berpikir liar. Sebab kau yang masih menggantungkan segala penasaran tentang alasanmu membuntutiku, dan kau dalihkan sebagai pengejaran untuk menggapai impian. Bahagia bukan tak membalut sekujur tubuhku yang masih diterpa angin berabu. Apalagi semenjak kau tak alpa bercurhat kepada alam di sepertiga malam. Aku sangat senang mendengarnya.Tapi sayang, dengan lahirnya rindu, kita selalu diberi jarak. Tak ada tempat yang bisa kuadukan sebagai obat penjinak rindu kecuali mendengar curahatanmu kepada Tuhan.

Inilah aku yang menjadi korban kegansan perasaan bila tidak cepat ditegaskan. Aku bingung, apakah aku harus menunggu jemputanmu? Atau aku yang harus mendatangimu? Pilihan yang amat sulit aku putuskan ini adalah kehendakku mengapa memilih diam dan yakin dengan cara bertahan, menjadi pilihan paling mapan. Karena aku berkeyakinan, diam adalah kegiatan untuk menghindar dari segala luka yang merajam.

Baca Juga: Makhluk Penunggu Nisan Kiai Syarqawi

Jujur, aku pernah ditinggalkan oleh seseorang yang memilliki padangan sama seperti dirimu. Orang itu sangat menyayangiku, ia tidak tega bila aku lecet terkena apapun. Meski hal itu menjadi alasan mutlak kenapa aku diciptakan. Semua rasa aku pasrahkan padanya walau terkadang itu berat untuk diterima, sebab kenyataan tak ada izin untuk melegalkan. Semua kebersamaan kami lalui bersama, meski terkadang ia sibuk dengan tamu-tamu yang menitipkan anaknya di tempat ini. Kurasa itu sama denganmu. Kau dipsarahkan dan menerima menghapal berbagai macam hapalan. Batinku menerka.

Ada beberapa kata yang sangat berkesan bagiku, dan aku tidak akan pernah melupakan perkataannya.

“Tetapalah bersamaku meski kita tak bisa disatukan,” ucapnya dengan nafas memburu.

Aku ingat betul waktu itu, dimana matahari belum meninggi di ujung timur. Burung-burung bersiul riang bermesraan dengan keceriaan embun-embun. Ketika angin mendesir mengundang dingin. Dan dimana perasaan kami sama, bahwa dunia adalah milik kami waktu itu.

Sungguh itu adalah kenangan kami yang takkan dilupa olehku. Namun, sorotan matamu, mampu menyibak kegigihanku bertahan melawan kesendirian di tengah guncangan perasaan yang terlanjur mengakar dengan pupuk penasaran. Aku tak bisa berpaling dari sorotan matamu yang tajam. Aku tak bisa membiarkan pandangan yang lama kurindu terbengkalai berantakan. Kehadiranmu sangat berati bagiku demi keberlangsungan perasaanku yang gersang berkepanjangan.

Aku tak ingin kau menghilang seperti orang yang pernah aku pasrahkan segala perasaan ini, kau memiliki tujuan lain selain mempertahankan perasaan yang semakin berkobar. Mungkin kau akan heran ketika mendengar utaianku ini, kan?

Di malam apa, aku lupa, tapi yang jelas uncapanmu di malam itu, lekat dalam angan. Kalau tidak salah kau berkata pada alam. Tak lama lagi aku akan menemuiku bersama perasaan yang berada di titik klimaks. Suaramu lirih menebus sunyi di tengah malam. Menggandeng angin membisiki gendang telingaku.

Akan kutunggu perkataanmu dan entah sampai kapan itu, tapi yang pasti, aku akan bersabar menunggu kau kembali
sekadar minta izin. Lalu kembali lagi untuk menyatakan perasaanmu. Demikian yang bisa kuraba.

***

Aku masih bersama jejakmu di sore yang entah keberapa. Menikmati keindahan dari seberkas jejak yang pelan tertetup pasir. Bingung semakin menjalar di tubuhku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk mencari perantara sebagai pengobat rindu. Ini bukan sekadar bualan atau lelucon, tapi, ini adalah siksaan yang tak berupa fisik. Namun penyakit seperti ini lebih terasa dan membebani.

Semakin hari, aku tambah bingung menghadapi cobaan ini. Cobak saja kau yang membuat jejak ini ada dihadapanku, betapa sumringgahnya senyum yang kutampakkan. Namun, itu hanya angan belaka, tak ada keseriusan yang benar-benar terjadi. Apalagi kau kerap berasama dia, orang yang mengendalikanmu. Orang itu amat aku segani dan kuhormati. Bahkan orang yang membawamu kemana dia mau, kau manut saja, tak ada perlawanan yang kau lakukan. Sebab tertalau ayik menikmati kebersamaan. Baragkali demikian yang bisa kuterka.

Semua ini semakin membuatku bingung, tak tahu harus dengan cara apa untuk menghilagkannya. Seandainya kau mengerti, dengan keakrabanmu bersamanya, membuat banyak kerinduan di dada, tapi karena kau dan dia teramat sulit untuk kutemui kecuali hendak jemaah salat lima waktu, dan itupun aku tak sempat melihatmu dengan tatapan lamat. Bukan tak berani ada di sampingmu, tapi karena kalau sepertiku memang tidak boleh berada di teras masjid bila zikir dilantunka. Apalagi ikamah. Kalau tidak manut pada pengurus masjid, siap-siap menerima bentakan, kalau apes, bambu yang pipih bisa membuat tanda lebam di betis.

Baca Juga: Drama Pohon Salam

Banyak perjuangan yang harus aku lakukan untuk mendekatimu, tidak semudah ketika aku baru menatap di tempat ini. Sialnya, di waktu itu, aku belum benar-benar menyukaimu. Baru saat aku menatap satu bulan, setelah ada interviu perihal tatib bersama pengurus. Hukuman bagi yang melanggar tidak mengenakkan, minimal paling kecil mengaji di depan pesantren dengan ketentuan jam sesuai pelanggaran. Itu yang aku takutkan ketika ingin menemuimu, semisal itu menimpaku, betapa malunya diriku, karena rasa, aku harus mengaji di depan kantor pesantren, setelah mengaji kepala diplontos dan dikeluarkan dari tempat ini, karena dianggap tidak punya akhlak, dan itu berlaku bagi semua yang bernyawa di tempat ini, meski sebagian berhasil lewat dasar tanah.

Aku bingung. Aparasa ini ada di ranah itu? Barangkali kau bisa memberi jawaban yang kuat.

Banyak harap yang aku utarakan pada tengah malam, dan harap-harap ada seorang teman yang bisa memberikan definisi jelas terkait dengan perasaan yang terlanjur mendalam ini. BenarC, kau memang tak bisa aku cium sepuasnya, tak bia kuraba seutuhnya, tak bisa kupeluk seeratnya tapi entah dasar apa, rasa ini enggan untuk pergi, justru semakin berakar seolah menjadi janji. Apakah aku bisa memiliki dan mencintaimu tanpa alasan? Walau ada perbedaan mendasar diantara kita?

Annuqayah, Juni 2020


Muhtadi.ZL. Penulis adalah Santri Jember, Sekretaris Umum Perpustakaan Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur. Aktif di berbagai Komunitas Menulis. Diantaranya (KPK) Komunitas Penulis Kreatif-Iksaj, Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa dan (KCN) Komunitas Cinta Nulis-Lub-Sel. Penulis bisa dihubungi di akun Fb-nya: Muhtadi.ZL

  • Bagikan