Kelas Petaruh

  • Bagikan
Kelas Petaruh
Ilustrasi: (Toàn Nguyễn dari Pixabay)

Kelas Petaruh

Oleh : Ramli Lahaping


Kilatnews.co- Hidup semakin mengkhawatirkan bagi Masni. Perekonomian keluarganya tengah terancam. Sudah dua bulan suaminya dirumahkan oleh pihak perusahaan akibat pandemi. Tidak ada lagi pemasukan saat pengeluaran semakin banyak. Itu membuatnya semakin cemas sebagai ibu rumah tangga yang bertugas mengatur urusan perbelanjaan. Apalagi, keadaan terus saja memburuk dan tak ada kepastian kapan akan kembali seperti sediakala.

Di tengah kemelut permasalahan, Masni pun menjadi semakin risau akibat sikap suaminya. Bagaimana tidak, suaminya tampak enteng-enteng saja ketika tabungan mereka semakin terkuras untuk keperluan sehari-hari. Ia tak juga berinisiatif untuk mencari pekerjaan lain, atau membangun usaha sendiri. Ia hanya bermalas-malasan sepanjang hari, sembari menunggu panggilan untuk balik bekerja di perusahaannya.

Yang lebih menjengkelkan Masni, suaminya malah ikut-ikutan memelihara dan memanjakan ayam jago, seturut kesenangan baru sejumlah lelaki di sekitar rumahnya. Hari demi hari, ia semakin asyik saja mengurus tiga ekor ayam bangkok yang dibelinya sebulan yang lalu dengan harga yang jauh di atas rata-rata ayam biasa. Dan untuk itu, uang belanja mereka mesti disisihkan demi urusan kandang dan pakan unggas tersebut.

Baca Juga:

Makhluk Penunggu Nisan Kiai Syarqawi

Tak pelak lagi, Masni naik darah menyaksikan kelakuan suaminya. Sudah beberapa kali ia menyampaikan protes dengan nada keras, tetapi suaminya tampak tidak menghiraukan. Sampai akhirnya, Masni menyerah dan terpaksa mengesampingkan kepentingan kesenangannya sendiri. Ia terus berusaha meredam kegandrungannya untuk menambah koleksi bunga-bunga pilihan di halaman depan rumahnya.

Tetapi dilematiknya bagi Masni, pemandangan di lingkungan tempat tinggalnya, sungguh penuh godaan bagi pencinta bunga sejati seperti dirinya. Pada segala penjuru, ia dapat melihat koleksi bunga yang begitu semarak di halaman rumah para tetangganya, termasuk bunga-bunga yang berharga mahal seperti yang kerap ditayangkan di layar televisi, hingga nafsunya kerap kali terpancing oleh rasa iri.

Namun demi kedamaian rumah tangganya, Masni teguh memaksa dirinya untuk berhenti mempertentangkan antara kesenangannya terhadap bunga-bunga dan kesenangan suaminya terhadap ayam jago. Ia terus mendidik perasaannya untuk menerima keadaan isi tamannya yang sederhana. Apalagi, ia tidaklah sendiri. Ada Sumi, tetangganya yang tinggal tepat di samping kanan rumahnya, dan juga memiliki koleksi yang biasa saja.

Demi menghindari aksi singgung-menyinggung dan pamer-pameran bunga, Masni akhirnya jadi lebih sering bergaul dengan Sumi. Mereka tampak saling menguatkan sebagai sesama pecundang di dunia perbungaan. Apalagi, keadaan mereka dipicu oleh musabab yang sama. Suami Sumi tak lain adalah teman sekerja suaminya yang juga dirumahkan dan kini larut dalam kesenangan memelihara ayam jago.

Tetapi meski nasib mereka tampak serupa, Masni merasa lebih malang ketimbang Sumi. Paling tidak, Sumi memiliki suami yang lebih pengertian ketimbang suaminya. Buktinya terlihat dua hari yang lalu, saat suami Sumi dan suaminya pulang sambil menenteng ayam jago mereka. Ketika itu, suami Sumi membawa serta belian sepot bunga mahal untuk Sumi, sedangkan suaminya sendiri tampak tidak terpikir untuk melakukan hal serupa.

Merasa sebagai pencinta bunga yang paling tidak terpandang di antara ibu-ibu pencinta bunga di sekitar rumahnya, Masni pun sangat berharap agar keadaan kembali pulih dan suaminya kembali bekerja. Atau paling tidak, suaminya berhenti menjadi pemelihara dan penyayang ayam jago, sehingga ia memiliki keringanan dan kesanggupan untuk memperturut kesenangannya dengan menambah koleksi bunga.

Baca Juga:

Drama Pohon Salam

Hingga akhirnya, tiga hari yang lalu, Masni menemukan akar permasalahan atas kebengalan suaminya dengan perasaan kacau. Menjelang tengah hari, ia pulang dari pasar sembari membawa pengetahuan yang menjengkelkan perihal suaminya dan ayam-ayam. Sebuah pengetahuan yang sekaligus bisa menjadi titik masuk baginya untuk menyusun dan menjalankan rencana agar sang suami berhenti berurusan dengan peliharaaannya itu.

Tanpa menunda waktu, Masni pun bertamu ke rumah Sumi untuk berdiskusi. Setelah bertandang, ia pun segera menuturkan pengetahuannya kepada tetangganya itu, “Hai, kau tahu, ternyata suamiku dan suamimu, dan juga bapak-bapak pemilik ayam jago di sekitar sini, sudah lama menyabung ayam di belakang lapangan desa.”

Sumi pun lekas mendengkus sembari mengibaskan tangannya. “Aku sudah tahu. Ratih yang memberitahukanku di pasar,” terangnya, menyebut nama istri seorang mantan calon kepala desa.

“Ya, aku juga. Aku pun tahu dari dia,” tutur Masni, kemudian lekas mengutarakan pancingan, “Kita harus menghentikan kelakuan mereka, demi keuangan kita.”

Sumi mengangguk-angguk setuju.

“Kita sebaiknya melapor ke polisi,” saran Masni

“Jangan gegabah! Kau mau suami kita berurusan dengan polisi?” tentang Sumi.

Masni menggeleng. “Lalu, bagaimana menurutmu?” tanyanya, tampak bingung.

Untuk beberapa saat, Sumi seperti berpikir-pikir dan menimbang-nimbang, kemudian menuturkan pendapatnya, “Sebaiknya, kita lapor kepada kepala dusun. Ia pasti akan mengambil tindakan yang tepat untuk menghentikan kegiatan para penyabung itu.”

Masni malah tampak meragukan pandangan itu. “Kau yakin ia bisa? Kau tahu sendiri kalau kepala dusun kita adalah seorang anak muda. Mana mungkin ia berani melarang bapak-bapak dan orang tua untuk berhenti berjudi.”

“Aku yakin ia bisa!” tegas Sumi. “Lagi pula, memang seharusnya begitu. Kita harus melaporkan permasalahan kemasyarakatan kepada aparat pemerintahan level bawah terlebih dahulu, agar dapat diselesaikan baik-baik. Bukan malah langsung melapor kepada aparat penegak hukum.”

“Tetapi aku sungguh tidak yakin kalau kepala dusun mampu mengatasinya,” tentang balik Masni.

“Kita tentu berharap kegiatan haram itu segera dihentikan. Tetapi kalau hanya dengan kepala dusun, aku yakin tidak akan mempan, atau setidaknya akan berlarut-larut.”

Melihat kekukuhan Masni, Sumi pun menantang, “Baiklah. Begini saja, kalau kepala dusun tidak bisa menghentikan kegiatan mereka, kau boleh mengambil sepot bungaku.”

Masni pun tergelak meremehkan. “Baik. Aku setuju. Dan kalau kepala dusun bisa menghentikan kegiatan mereka, kau pun boleh memilih dan mengambil sepot bungaku.”

Sumi mengangguk berani. “Aku setuju.”

Tanpa menunda waktu, mereka berdua lekas bergegas ke rumah kepala dusun. Setelah bertamu, mereka lantas mengutarakan keresahan mereka, sembari meminta agar sang kepala dusun cepat-cepat mengambil tindakan. Hingga akhirnya, berselang beberapa saat, mereka pulang setelah sang kepala dusun menjanjikan bahwa ia akan segera melakukan pendekatan persuasif untuk menghentikan kegiatan judi sabung ayam yang bertentangan dengan hukum negara dan hukum agama itu.

Keesokan harinya setelah mereka melakukan pelaporan kepada kepala dusun dan menyepakati pertaruhan atasnya, Masni akhirnya harus menderita kekalahan. Dengan sangat berat hati, ia harus merelakan sepot bunga andalannya berpindah ke taman Sumi. Pasalnya, berdasarkan pemantauan dan informasi dari Ratih yang tinggal di dekat medan persabungan ayam, ternyata para penjudi itu tidak lagi melangsungkan kegiatan terlarangnya.

Baca Juga:

Gadis yang Tak Dilahirkan untuk Mengabdi Kepada Ketakutan

Namun hari ini, menjelang tengah hari, perasaan Masni dan Sumi kembali dilanda kecurigaan setelah suami mereka menghilang bersama ayam kesayangannya masing-masing. Keduanya pun bertanya-tanya perihal ke manakah suami mereka bertandang. Sampai akhirnya, kabar terbaru datang dari Ratih yang menginformasikan bahwa suami mereka dan kawanannya kembali berhimpun di belakang lapangan desa, di bawah pepohonan yang rindang, untuk menyelenggarakan judi sabung ayam.

Akhirnya, dengan warna perasaan yang campur aduk, di antara kekesalan dan kesenangan, Masni pun bergegas memboyong kembali sepot bunga kesayangannya dari taman Sumi yang mesti rela menerima pembatalan kemenangannya. Sampai akhirnya, mereka kembali membicarakan rencana baru dalam suasana yang lebih hangat:

“Jadi, bagaimana?” tanya Masni, dengan raut setengah meledek. “Apa sudah sebaiknya kita melapor saja ke polisi?

“Apa kau takut dan sudah meyerah, sampai kau tak ingin lagi mempertimbangkan langkah yang lain?” tanya balik Sumi, dengan raut seperti menantang.

Masni pun tertawa pendek. “Baiklah. Kita lapor ke kepala desa. Dan aku mempertaruhkan tiga pot bungaku padamu, bahwa ia pasti bisa memberantas kegiatan pesabung ayam itu.”

Sumi mendengkus, sambil menyeringai congkak. “Baiklah. Aku sepakat. Aku mempertaruhkan tiga pot bungaku padamu, bahwa ia pasti gagal memberantas kegiatan itu.”

Tanpa mengulur waktu, Masni dan Sumi kemudian menuju ke kediaman kepala desa. Mereka berangkat sambil membawa kerisauan dan harapan mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka sampai dan menjumpai keramaian di sekitar rumah sang kepala desa. Di halaman depan rumah mewah tersebut, warga tampak mengelilingi sejumlah personel kepolisian.

Dengan rasa penasaran, Masni dan Sumi lantas mendekat, dan seketika menjumpai Ratih di antara para warga.

“Apa yang terjadi?” selidik Masni.

“Bapak kepala desa ditangkap polisi. Kabarnya, ia terlibat dalam kegiatan judi sabung ayam. Yang kudengar-dengar, ia membekingi kegiatan itu,” terang Ratih, setengah berbisik.

Seketika, Masni dan Sumi tampak terkejut.

“Lalu, para penyabung dan suami kami bagaimana?” tanya Sumi, penuh kekhawatiran.

“Mereka telah dibawa ke kantor polisi,” jawab Ratih.

Masni dan Sumi pun sontak terenyuh.

Masni lantas menaksir, “Jadi, para polisi sudah menggerebek kegiatan sabung ayam itu?”

Ratih mengangguk.

“Bagaimana polisi bisa tahu?” sergah Sumi.

Ratih menggeleng. “Entahlah.”


Ramli Lahaping. Penulis Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di beberapa media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

  • Bagikan