Aktivis kemanusiaan sekaligus pekerja seni, Chiki Fawzi, kembali menarik perhatian publik dengan rencana keberangkatannya ke Jalur Gaza pada 12 April 2026 mendatang. Putri musisi legendaris Ikang Fawzi ini akan bergabung dalam misi pelayaran internasional yang dikenal sarat risiko.

Keputusan berani Chiki diambil di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang memanas, terutama akibat aksi saling serang antara Iran dengan aliansi AS-Israel. Situasi keamanan yang tidak menentu di kawasan tersebut menjadikan misi kali ini terasa jauh lebih menantang bagi para relawan.

Kekhawatiran Ikang Fawzi dan Usaha Chiki Mendapatkan Restu

Risiko tinggi menembus jalur laut sempat memicu kekhawatiran mendalam pada diri sang ayah, Ikang Fawzi. Chiki mengaku membutuhkan waktu dan usaha ekstra untuk memberikan pemahaman kepada ayahnya agar mendapatkan restu untuk berangkat.

“Effort sih memang pelan-pelan. Tapi Ayah tahu banget ini perjuangan. Waktu awal-awal diberitahu kaget banget,” ungkap Chiki Fawzi saat memberikan keterangan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).

Misi kemanusiaan ini ditargetkan berlangsung selama kurang lebih dua bulan sejak kapal mulai berlayar meninggalkan pelabuhan. Jika berhasil mendarat di Gaza, Chiki berkomitmen untuk tinggal sementara waktu guna mendampingi warga Palestina yang terdampak konflik.

Akses Jalur Laut Menjadi Satu-satunya Pilihan

Chiki menjelaskan bahwa menempuh jalur laut menjadi satu-satunya pilihan bagi relawan non-medis seperti dirinya. Hal ini dikarenakan akses darat menuju wilayah konflik tersebut dijaga sangat ketat oleh otoritas internasional secara legal.

“Sekarang yang bisa masuk Gaza kalau lewat jalur darat itu cuma orang-orang medis dari MER-C, dokter, atau perawat. Jadi orang-orang biasa kayak kami ini memang nggak bisa kalau lewat jalur darat yang legal,” papar Chiki mendetailkan hambatan yang ada.

Gerakan ini merupakan bagian dari aksi global yang diusung oleh Freedom Flotilla Coalition, sebuah koalisi yang sudah aktif mendobrak blokade Gaza sejak tahun 80-an. Chiki merasa terpanggil untuk memperjuangkan koridor bantuan kemanusiaan demi keselamatan warga sipil di sana.

Rute dan Jumlah Relawan

Rencananya, terdapat lima titik awal pelayaran yang tersebar mulai dari Italia, Tunisia, Barcelona, Yunani, hingga Turki. Perjalanan dari Tunisia menuju Gaza sendiri diperkirakan akan memakan waktu selama satu minggu mengarungi lautan lepas.

Terkait personel, jumlah relawan asal Indonesia yang akan diberangkatkan masih belum bisa dipastikan karena harus melalui proses seleksi yang ketat. “Karena ini pendaftaran sudah dibuka, tapi nggak tahu kan berapa yang nantinya terpilih,” tutup Chiki Fawzi.