Arsenal harus merelakan trofi pertama musim ini setelah takluk 0-2 dari Manchester City dalam final Carabao Cup yang digelar di Wembley, Minggu (22/3/2026) malam. Kekalahan ini menempatkan pelatih Mikel Arteta di bawah tekanan berat, terutama setelah penampilan yang dinilai lesu.

Pada awal babak kedua, pemandangan mencolok terjadi saat kiper Kepa Arrizabalaga dengan tenang menguasai bola selama 36 detik, sementara sepuluh pemain Arsenal lainnya hanya bisa menyaksikan. Situasi ini secara gamblang menggambarkan kondisi The Gunners yang kesulitan memberikan respons terhadap tekanan intens dari Manchester City.

Analisis Taktik dan Kegagalan Arsenal

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, menerapkan formasi efektif dengan menempatkan Antoine Semenyo dan Jeremy Doku sejajar bersama Rayan Cherki serta Erling Haaland. Strategi ini membentuk “dinding” yang kokoh di depan lini tengah Arsenal, menyulitkan aliran bola lawan.

Arsenal tampak kehilangan kemampuan teknis dan kejelian untuk mengatasi tekanan tersebut. Mereka terpaksa hanya memukul bola jauh ke depan, yang dengan mudah kembali dikuasai oleh Manchester City. Selama 25 menit periode krusial itu, pertandingan berjalan sangat tidak seimbang.

Dalam rentang waktu tersebut, Arsenal hanya mencatatkan 25 persen penguasaan bola. Cukup mengherankan, Mikel Arteta tidak melakukan perubahan taktik atau pergantian pemain apa pun. Ketika ia akhirnya melakukan dua pergantian, Arsenal sudah tertinggal 0-2 dan waktu pertandingan hampir habis.

Arteta menyoroti peluang awal yang gagal dimanfaatkan Kai Havertz sebagai titik penting. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa itu merupakan satu-satunya peluang berharga yang berhasil diciptakan oleh Arsenal sepanjang laga. Tim dengan kualitas seperti Arsenal seharusnya tidak merasa wajib mencetak gol dari semua peluang, khawatir jika kesempatan lain mungkin tidak akan muncul.

Masa Depan dan Tekanan yang Meningkat

Jeda internasional memberikan kesempatan bagi Arsenal untuk melakukan perbaikan. Mereka akan kembali bertanding melawan Southampton di perempat final Piala FA. The Gunners seharusnya mampu memenangi pertandingan tersebut dan kembali ke Wembley untuk kompetisi lain.

Namun, kekalahan di final Carabao Cup ini meninggalkan “jejak luka” yang semakin bertambah pada momen-momen penting dan di bawah sorotan besar. Seharusnya, Carabao Cup dapat mengurangi tekanan untuk pencapaian yang lebih besar di masa mendatang. Ironisnya, tekanan tersebut kini justru meningkat hingga ke level tertinggi.

Kekalahan di final ini mungkin bisa dimaafkan dan dilupakan jika Arsenal mampu bangkit untuk merebut trofi yang lebih utama. Namun, beban tersebut terasa sangat berat di pundak mereka, menjadikan tugas ini semakin sulit untuk diwujudkan.