Muhammad Syauqi, Keuchik Gampong Ulee Pata yang baru dilantik pada Februari 2026, memulai langkah reformasi tata kelola desa secara menyeluruh. Inisiatif ini mencakup pembenahan administrasi, penataan aset, penguatan kelembagaan, serta membangun kemitraan strategis dengan Universitas Syiah Kuala (USK), Bank BRI, dan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) untuk mengakselerasi pembangunan gampong.

Pembenahan Internal dan Penguatan Kelembagaan

Reformasi tata kelola gampong diawali dengan perbaikan di internal pemerintahan. Aparatur desa kini fokus merapikan administrasi kantor keuchik, melakukan pendataan ulang aset dan inventaris, serta mengurus sertifikasi tanah kosong milik gampong guna memastikan kepastian hukum. Selain itu, pemerintah gampong juga menertibkan dan mengaktifkan kembali sejumlah lembaga yang dinilai krusial untuk mendukung jalannya pembangunan, termasuk Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Kita mulai reformasi kampung secara besar-besaran. Pertama adalah administrasi kantor keuchik, di mana kita sudah melakukan pendataan aset ulang, kemudian inventaris dan administrasi. Yang kedua, saya sedang menertibkan lembaga-lembaga kemudian mengaktifkan beberapa lembaga yang memang dirasa perlu untuk lancarnya pembangunan di kampung,” ujar Syauqi kepada Pintoe.co.

Kolaborasi Strategis untuk Pembangunan Berkelanjutan

Seiring dengan pembenahan internal, Pemerintah Gampong Ulee Pata juga memperluas jangkauan kolaborasi dengan berbagai lembaga. Bersama Bank BRI, gampong menjalankan program pendampingan selama tiga tahun bagi 20 kepala keluarga miskin prasejahtera, dengan tujuan meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan mereka. Kerja sama juga terjalin dengan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) melalui program perlindungan perempuan dan anak.

Memanfaatkan latar belakang keilmuannya di bidang teknik kimia, Syauqi menggandeng doktor serta sivitas akademika Program Magister dan Doktor Teknik USK. Kolaborasi selama tiga tahun ini berfokus pada penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) yang diharapkan dapat mendorong kemajuan gampong.

Inisiatif Ekonomi dan Tantangan Anggaran

Di sektor ekonomi, pemerintah gampong mulai menyusun sejumlah strategi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Gampong (PAG). Salah satu langkah konkret adalah menertibkan pengelolaan jembatan di kawasan Krueng yang selama ini terbengkalai, agar dapat dimanfaatkan secara optimal bersama dinas terkait. Lahan kosong milik gampong juga dipersiapkan untuk mendukung Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) serta rencana pembangunan pasar gampong.

Pada sektor Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), pemerintah gampong tengah menjajaki peluang usaha sebagai distributor gas LPG. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat penyertaan modal usaha, terutama setelah adanya pemotongan anggaran desa.

Menurut Syauqi, pemotongan anggaran desa berdampak pada penyesuaian sejumlah target pembangunan. Program yang semula ditargetkan rampung dalam tiga tahun kini diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga delapan tahun. Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan upaya pemerintah gampong untuk terus membangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Mempererat Kebersamaan Melalui Kegiatan Sosial Budaya

Di tengah berbagai upaya pembenahan dan pembangunan, Pemerintah Gampong Ulee Pata juga terus menjaga semangat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan sosial dan budaya. Salah satunya adalah memfasilitasi pembuatan bubur Asyura secara gotong royong oleh para ibu dalam skala gampong.

Syauqi menjelaskan, kegiatan tersebut bukan hanya bagian dari tradisi budaya dan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat ukhuwah, silaturahmi, dan kekompakan masyarakat. “Di sini timbul inisiatif untuk melaksanakan dalam skala gampong. Kita ingin ada mekanisme gotong royong maka kita berikan dananya. Mereka secara gotong royong membuat bubur yang kemudian dinikmati bersama oleh masyarakat. Jadi, di samping ritual dan budaya, ada ukhuwah dan silaturahmi yang mempererat kekompakan,” ungkap Syauqi.