Harga minyak dunia ditutup dengan lonjakan signifikan pada Jumat, 3 April 2026, memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas ekonomi. Minyak jenis Brent crude oil naik sekitar 7,78 persen, menembus level 109,03 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak drastis sebesar 11,41 persen, mencapai 111,54 dolar AS per barel.
Kenaikan harga yang eksplosif ini, menurut laporan Reuters, merupakan salah satu kenaikan harian terbesar sejak tahun 2020. Fenomena ini langsung menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak, terkait stabilitas ekonomi dan potensi inflasi yang lebih tinggi.
Pemicu Lonjakan Harga Minyak Global
Lonjakan tajam harga minyak ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan negara-negara Barat. Ancaman terhadap jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menyebabkan gejolak signifikan di pasar komoditas energi.
Selain itu, gangguan pasokan global turut memperburuk situasi. Laporan menunjukkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina telah mengurangi kapasitas ekspor Rusia hingga sekitar 1 juta barel per hari. Angka ini setara dengan sekitar seperlima dari total kapasitas ekspor Rusia.
Defisit pasokan yang terjadi, dikombinasikan dengan sentimen pasar yang panik, mendorong investor untuk memborong kontrak berjangka minyak. Para analis dan pelaku pasar menilai kenaikan harga minyak yang signifikan dalam waktu singkat ini bukan sekadar sentimen sesaat.
Ini merupakan dampak kumulatif dari ketidakpastian geopolitik dan gangguan fisik pada rantai pasokan minyak global yang secara fundamental membuat harga komoditas ini melambung tinggi.
Dampak Konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz
Konflik di Timur Tengah secara konsisten menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dunia. Selat Hormuz, sebagai jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan salah satu choke point terpenting bagi perdagangan minyak global.
Sekitar sepertiga dari seluruh minyak yang diperdagangkan di dunia melewati selat ini setiap harinya. Oleh karena itu, setiap ancaman terhadap navigasi aman di Selat Hormuz secara instan memicu spekulasi kenaikan harga minyak, mengingat potensi gangguan besar pada pasokan global.




