Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menonaktifkan sementara pelatih Hendra Basir menyusul laporan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap delapan atlet. Penonaktifan ini dilakukan setelah adanya pengaduan resmi dari para korban.
Dugaan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik
Laporan dugaan pelecehan dan kekerasan tersebut disampaikan langsung kepada Ketua Umum Pengurus Pusat FPTI, Yenny Wahid, pada 28 Januari 2026. Sebanyak delapan atlet panjat tebing pelatnas FPTI, didampingi psikolog Pelatnas FPTI, menyampaikan pengaduan tersebut.
FPTI mengonfirmasi laporan ini melalui surat keputusan resminya. “Bahwa pada tanggal 28 Januari 2026, sebanyak delapan orang atlet panjang tebing pelatnas FPTI yang didampingi psikolog Pelatnas FPTI telah menyampaikan pengaduan kepada Ketua Umum Pengurus Pusat FPTI,” demikian bunyi surat keputusan tersebut.
Surat itu melanjutkan, “Mengenai dugaan adanya tindakan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan Pelatnas FPTI.” Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan ramai dibicarakan.
Profil dan Jejak Karier Hendra Basir
Sebelum tersandung kasus ini, nama Hendra Basir dikenal luas di dunia panjat tebing Indonesia. Ia berhasil mengantarkan Veddriq Leonardo meraih medali emas pada Olimpiade Paris 2024, sebuah pencapaian bersejarah bagi olahraga panjat tebing Tanah Air.
Pria kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan ini memulai karier olahraganya sebagai atlet. Ia pernah mewakili DKI Jakarta di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Kalimantan Timur pada tahun 2008 untuk cabang panjat tebing, meskipun saat itu belum berhasil meraih medali.
Setelah PON 2008, Basir memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia kemudian memulai karier kepelatihannya sebagai pelatih panjat tebing mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Jejak kepelatihannya juga membawanya ke Kepulauan Seribu dan sejumlah kompetisi PORDA di Sulawesi Selatan, di mana ia melatih senam, loncat indah, dan ski air.
Pada tahun 2012, Hendra Basir kembali melatih di Pelatda DKI Jakarta, tempat ia mulai terbiasa membimbing sejumlah atlet. Fokusnya pada panjat tebing DKI Jakarta berlanjut dari tahun 2013 hingga 2016, yang membuahkan hasil signifikan dengan meraih juara umum di PON Jawa Barat 2016.
Kesuksesan tersebut membawanya dipercaya untuk melatih di tingkat Pelatnas, dengan fokus pada persiapan Asian Games 2016. Ia juga berperan aktif dalam upaya memasukkan cabang olahraga panjat tebing ke Olimpiade, yang akhirnya berhasil dipertandingkan pertama kali pada Olimpiade Tokyo 2020.
Di bawah bimbingannya, dua atlet panjat tebing Indonesia, Veddriq Leonardo dan Kiromal Katibin, sukses meraih gelar juara dunia. Puncak prestasinya adalah saat Veddriq Leonardo berhasil meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024.
Kini, di tengah gemilang prestasinya, Hendra Basir harus menghadapi dugaan serius terkait pelecehan seksual dan kekerasan terhadap atlet di lingkungan Pelatnas FPTI.




