Nama Tasya Kamila kembali menjadi perbincangan hangat di tengah publik setelah ia mengunggah “Laporan Kontribusi Tasya Kamila bagi Indonesia sebagai Alumni Awardee LPDP” pada Jumat, 27 Februari 2026. Unggahan tersebut sontak memicu beragam reaksi, baik pro maupun kontra, terutama mengenai sejauh mana kontribusi nyata yang telah ia berikan pasca menerima beasiswa dari negara.
Dalam laporan yang dibagikannya, Tasya memaparkan detail perjalanan studinya untuk gelar S-2 di Columbia University pada periode 2016–2018. Ia mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy dengan dukungan penuh dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tasya berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,75.
Kritik Publik dan Klarifikasi Tasya Kamila
Namun, laporan tersebut tidak sepenuhnya diterima positif oleh warganet. Salah satu kritik keras datang dari akun @houseofvya yang mempertanyakan dampak dari kontribusi Tasya. “Mbak kok impact-nya nggak sebesar dana yang dikeluarkan ya? Ini lebih mirip prokeran BEM/kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu-ibu di lingkungan,” tulis akun tersebut.
Menanggapi berbagai kritik yang muncul, Tasya Kamila menyampaikan permohonan maafnya. “Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan,” balas Tasya Kamila. Ia juga mengakui bahwa tidak mungkin baginya untuk memenuhi harapan semua pihak. “Tapi aku sadar memang aku nggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang,” sambungnya.
Mantan penyanyi cilik ini mengaku merasakan kesedihan mendalam ketika upaya dan gerakan lingkungan yang ia rintis dianggap tidak berdampak. “Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan,” ungkapnya.
Tasya menjelaskan bahwa isu Sustainable Development Goals (SDGs) memang menjadi prioritas utama saat ia menempuh pendidikan di bangku kuliah. Menurutnya, meskipun gerakan akar rumput dapat dilakukan oleh siapa saja, tetap dibutuhkan inisiator yang bersedia menggerakkan. “Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya,” ujar Tasya.
Ia menambahkan pentingnya peran penghubung antara pembuat kebijakan dan masyarakat. “Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud,” lanjutnya.
Selain kontribusi sosial dan lingkungan, Tasya juga menyinggung dampak finansial yang telah ia berikan kepada negara. “Kak, kalau mau ngomongin monetary impact, Alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang management-ku setorkan Insya Allah udah bisa nutup itu uang sekolahku,” jelasnya.
Sebelumnya, Tasya telah membeberkan berbagai pengabdiannya sejak lulus pada 2018 hingga 2023. Kontribusi tersebut meliputi perannya sebagai Duta Lingkungan Hidup di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), pendirian Green Movement Indonesia yang kini memiliki ratusan relawan, serta keaktifannya dalam berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan organisasi non-pemerintah (NGO).




