Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggelar mini talkshow bedah buku “Huluisasi dan Hilirisasi Beras” di sela kegiatan Exclusive Media Gathering & Iftar Night. Acara yang berlangsung di Cafe Bowl Coffee Connection, Tebet, Jakarta Selatan, pada Rabu (25/2/2026) kemarin, menghadirkan para penulis untuk mengulas komprehensif tata kelola perberasan nasional.

Lima penulis buku tersebut, yakni Khudori, Erizal Jamal, Agus Saifullah, Tito Pranolo, dan Dr. Anisa Dwi, secara bergantian membedah relasi krusial antara sektor hulu dan hilir dalam rantai pasok beras.

Hilirisasi Bergantung pada Hulu

Erizal Jamal menegaskan bahwa upaya hilirisasi pertanian tidak akan berhasil tanpa fondasi yang kuat di sektor hulu. “Kalau kita berbicara hilirisasi pertanian itu tidak cukup, karena keberhasilan mengelola isu-isu hilirisasi akan sangat berkaitan dengan isu-isu di hulu,” ujarnya.

Menurut Erizal, buku ini secara mendalam mengulas kondisi hulu pertanian, mencakup aspek budidaya, produktivitas, hingga faktor-faktor struktural yang memengaruhi produksi. Ia juga menyoroti bahwa capaian swasembada beras yang diumumkan pemerintah tidak terlepas dari kontribusi besar sektor hulu. Tanpa produksi yang kuat, hilirisasi hanya akan menjadi jargon kebijakan semata.

Pentingnya Peningkatan Produktivitas Jangka Panjang

Senada dengan Erizal, Khudori mengingatkan bahwa capaian swasembada beras tahun lalu lebih banyak disumbang oleh perluasan lahan dan peningkatan luas panen. “Peningkatan luas panen itu pasti ada batasnya. Selain itu, kita juga diuntungkan karena sepanjang tahun iklim relatif bersahabat,” jelasnya.

Khudori menekankan perlunya pemerintah “naik kelas” dalam pengelolaan pertanian. Fokus tidak boleh hanya pada pengejaran angka produksi, melainkan pada penguatan struktur dan produktivitas jangka panjang untuk keberlanjutan sektor pangan nasional.

Keseimbangan Kebijakan untuk Petani dan Konsumen

Sementara itu, Agus Saifullah menyoroti urgensi kebijakan yang mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan petani, konsumen, dan stabilitas pasar. “Kebijakan harus membuat petani happy, konsumen happy, perdagangan berjalan baik, dan pemerintah juga mendapatkan stabilitas,” katanya.

Ia menambahkan bahwa stabilitas harga dan pasokan beras memiliki dampak luas pada sektor-sektor lain. Oleh karena itu, harmonisasi program dari sisi produsen maupun konsumen menjadi kunci untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.