Esai  

Nglurug Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake

Nglurug Tanpo Bolo

Nglurug Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake

Oleh : Agung Wibawanto

KilatNews.Co Bagi orang Jawa, pepatah ataupun nasehat (pitutur) seperti judul di atas sudah sering didengar, namun kadang tidak banyak dipahami apalagi dipraktikkan. Ya, jadinya hanya sekadar tahu saja. Anak-anak di sekolahan di Jawa menghafal banyak pitutur ya sebatas menjadi hafalan saja. Bagaimana tidak? Pada nyatanya itu tidak menjadi budaya ataupun praktik yang dibiasakan oleh anak-anak (hingga dewasa kelak).

Selain itu, pada faktanya yang terjadi sebaliknya. Anak-anak banyak dipertontonkan adanya tawuran, misalnya, saling ledek ataupun menghina. Kalau merasa menang terus jemawa dan kalau kalah pastilah ngamuk-ngamuk. Itu lah yang terjadi, dimana pun.

Coba lihat dalam pertandingan olahraga saja, yang harusnya menjunjung sportifitas. Atau bisa juga dilihat saat pemilu, pemilihan Ketum sebuah organisasi besar, bahkan pada level pemilihan RT pun demikian.

Lantas, apa arti sebenarnya dari pitutur itu? “Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake“, dalam artian harfiahnya, menyerbu tanpa pasukan dan menang tanpa bersorak.

Memahami filosofi pitutur tidak hanya dilihat dari arti harfiahnya saja, melainkan, kalimat itu memiliki makna atau pesan yang sangat dalam. Pesannya adalah: Jika kita ingin melakukan sesuatu (berjuang mewujudkan tujuan) tidak perlu mengandalkan tenaga orang lain, memanfaatkan posisi kedudukan, status/jabatan, materi dan sebagainya.

Lakukan secara kesatria menggunakan tangan dan tenaga sendiri dengan bekerja keras dan sepenuh hati. Dalam teori politik, strategi pencapaian tujuan memang juga diajarkan ada beberapa cara, termasuk misalkan penggalangan massa dsb. Namun pada praktiknya, jika sudah terkait kepada kekuasaan (biasanya soal posisi, jabatan dan keuntungan materi), orang bisa gelap mata dan melakukan segala cara.

Termasuk contoh paling riil kalau di dunia politik, para politikus memakai cara money politic, black campaign hingga negative campaign. Hal ini sebenarnya yang ingin diingatkan oleh pitutur dalam kalimat pertamanya itu. Jadilah kesatria yang menjaga segala sikap dan perilakunya yang baik. “Bolo” itu juga dapat diartikan sebagai kesombongan.

Kita tidak perlu menjadi sombong dalam mewujudkan suatu keinginan, yang nantinya malah berbalik menjadi karma yang merugikan diri sendiri. Meskipun kita kalah, misalkan, atau gagal dalam mencapai tujuan yang dikehendaki, maka kita tidak menjadi malu (wirang) ataupun mendapat rugi yang banyak, karena kita berusaha dengan tenaga kita sendiri (mandiri).

Bandingkan andaikata kita sudah mengeluarkan biaya banyak untuk membayar orang apalagi ditambah dengan gaya sombong dan cara-cara negatif lainnya kemudian kalah? Tentu kita akan rugi banyak dan bisa marah, stress juga depresi. Terbukti banyak pelaku politik (caleg atau pun peserta pilkada) yang kemudian ngamuk dan gila ketika gagal.

Nah, masuk kepada kalimat berikutnya “menang tanpo ngasorake“, memiliki arti filosofi sebagai berikut: Ketika kita memenangi sebuah upaya, maka kita dianjurkan atau diingatkan tidak perlu berteriak-teriak menyombongkan diri hingga merendahkan pihak lawan. Low profile saja untuk selalu bersyukur karena tujuan yang diharapkan sudah tercapai.

Pesan ini melatih diri kita untuk selalu Istiqomah dan tawaduk dalam menjalani semua urusan. Tuhan lebih menyukai hambaNya yang selalu eling dan terus bersyukur atas semua capaian, baik maupun buruk.

Sepertinya sederhana dan mudah kan? Namun pada praktiknya sulit dan yang terjadi sebaliknya. Seolah, orang-orang lebih tahu atau kebih menguasai ilmu bagaimana bertindak ketika mereka kalah, dan lupa apa yang harus mereka lakukan ketika mereka menang.

Biasanya sih, jika menang lantas berkoar-koar sambil menyindir ataupun menjatuhkan harga diri orang lain, menjadi sombong dan jemawa, tapi akhirnya juga tidak ada prestasi apapun yang dihasilkan (tidak berbuat yang manfaat kepada orang banyak). Tapi jika mereka kalah, nah ini yang justru sudah dipersiapkan sebelumnya. Mereka sudah siapkan strategi A, B, C dst, lengkap dengan alat-alat yang mau digunakan, seperti spanduk, massa dan logistik untuk membuat kegaduhan.

Meski sudah lewat beberapa tahun lamanya pun, sakit hati karena kalah tetep masih membara. Hal ini yang ingin dipesankan melalui kalimat kedua dalam pitutur tersebut. Menang gak perlu sombong dan kalah jangan ngamuk (baper). Siapkan diri untuk kondisi atau hasil capaian apapun.

Untuk itu, ketika diberi pitutur ini juga jangan terus merasa dianggap sebagai anak kecil. Justru, kadang orang dewasa yang harus sering-sering diingatkan. Karena sesungguhnya mereka sudah tapi kadang diabaikan.

Menariknya, ternyata pitutur ini juga dimengerti oleh seorang Barat bernama Eric Berne. Ia juga membuat quote yang kurang lebih bernilai dan bermakna sama, yakni:

“Seorang Pecundang sangat tahu apa yang harus dilakukan jika menang, dan marah bila kalah. Sedangkan Pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah.”

Semoga ada manfaatnya sebagai refleksi diri di akhir tahun 2021 ini.