Nama Karen Brooks, mantan diplomat Amerika Serikat yang kini berkecimpung di sektor swasta, mendadak menjadi sorotan publik dan ramai dicari di mesin pencarian pada Minggu, 22 Februari 2026. Hal ini menyusul tayangnya siniar (podcast) “Bocor Alus” majalah Tempo di kanal YouTube Tempodotco yang membahas kedekatannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam siniar tersebut, Brooks disebut-sebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Prabowo, bahkan pernah menginap di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Jawa Barat. Kedekatan ini memicu pertanyaan mengenai perannya dalam sejumlah proyek konservasi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Kedekatan dengan Prabowo dan Proyek Way Kambas
Erwan Hermawan, seorang wartawan Tempo, dalam siniar “Bocor Alus” mengungkapkan, Karen Brooks ini orang asing di sekitar Prabowo yang sangat dekat dengan Prabowo dan pernah ketemu Prabowo di Hambalang. Bahkan informasinya nginep langsung di sana,
ujarnya pada Minggu (22/2/2026).
Kedekatan tersebut diduga berkaitan dengan lobi-lobi yang dilakukan Brooks terkait proyek konservasi di Taman Nasional Way Kambas. Stefanus Pramono, wartawan Tempo lainnya, mempertanyakan lebih lanjut, Nah, Karen Brooks ini kan sebenarnya orang Amerika ya dan dia beberapa tahun terakhir kemudian dekat dengan Prabowo. Seperti apa sih lobi-lobi dia ke Prabowo? Tadi sudah lu sebutin gitu kan pernah menginap di Hambalang gitu, ada lobi-lobi lain yang dia lancarkan.
Erwan Hermawan menjelaskan bahwa dalam pertemuan dengan Prabowo, Brooks memaparkan tentang konservasi di Way Kambas. Jadi dalam pertemuan dengan Prabowo, Karen Brooks itu bercerita soal konservasi di Taman Nasional Way Kambas dan dia bilang bahwa ada obstacle untuk melakukan kerja-kerja konservasi terutama untuk perdagangan karbon. Karena kan duit dari perdagangan karbon itu nanti akan digunakan untuk konservasi di Taman Nasional Way Kambas,
terang Erwan.
Latar Belakang dan Karier Karen Brooks
Lahir dan besar di Eastern Long Island, Amerika Serikat, Karen Brooks menempuh pendidikan sarjana di Princeton University dan meraih gelar master dari Cornell University. Ia dikenal menguasai beberapa bahasa Asia, termasuk Bahasa Indonesia, Jawa, Mandarin, dan Thai, yang membantunya membangun jaringan luas di kawasan Asia Tenggara.
Karier Brooks di pemerintahan Amerika Serikat cukup cemerlang. Pada masa Presiden Bill Clinton, ia menjabat sebagai penasihat khusus Asisten Menteri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, serta memimpin portofolio Asia di staf perencana kebijakan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright.
Kemudian, pada masa Presiden George W. Bush (2001-2004), Brooks menjabat sebagai Direktur Urusan Asia di Dewan Keamanan Nasional (NSC) Gedung Putih di bawah National Security Advisor Condoleezza Rice. Selama bertugas di NSC, ia sering dikirim ke Asia Tenggara untuk negosiasi sensitif, termasuk pertemuan rahasia dengan Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri, terkait upaya pencegahan serangan terorisme. Brooks disebut memiliki hubungan personal dan profesional yang mendalam dengan Megawati. Ia juga terlibat dalam proses perdamaian di Aceh pada 2003 dan negosiasi bantuan kemanusiaan pasca-tsunami 2004 bersama Program Pangan Dunia PBB.
Jejak di Sektor Swasta dan Proyek Kontroversial
Setelah meninggalkan pemerintahan pada 2004, Brooks mendirikan perusahaan konsultan yang berfokus membantu perusahaan multinasional AS berekspansi di Asia. Saat ini, ia menjabat sebagai senior advisor untuk TPG Capital, sebuah perusahaan ekuitas swasta global, serta adjunct senior fellow untuk Asia di Council on Foreign Relations di New York. Brooks juga bekerja dengan The Rise Fund, kendaraan investasi dampak sosial TPG yang melibatkan vokalis U2, Bono, sebagai anggota dewan. Ia juga pernah tercatat sebagai anggota dewan Humane Society International.
Di Taman Nasional Way Kambas, Brooks berencana mengembangkan dua jenis proyek. Pertama, wisata eksklusif yang mengadopsi model di Botswana, Afrika, dengan paket wisata senilai 14.000 dolar AS per orang. Wisata eksklusif itu seperti dia kembangkan di Afrika, di beberapa negara salah satunya di Botswana. Dia mengembangkan wisata eksklusif di mana nanti pengunjung itu dikenakan bayaran 14.000 Dolar. Dan paket wisatanya itu menginap di resort di dalam Taman Nasional Way Kambas nanti. Kemudian juga akan diajak keliling untuk melihat monyet, lalu kemudian gajah Sumatera, kemudian harimau dan juga satwa-satwa liar lah yang kira-kira seperti itu sehingga ada pengalaman yang berbeda sehingga dikasih tarif yang tinggi,
jelas Erwan Hermawan.
Rencana ini mencakup pembangunan resor di dalam taman nasional serta pembangunan landasan helikopter atau pesawat kecil untuk mengangkut wisatawan. Namun, rencana ini menuai kekhawatiran akan dampak lingkungan. Dampaknya banyak. Salah satunya nanti hewan akan kebisingan karena Karen Brooks akan membangun landasan pesawat di Taman Nasional Way Kambas. Helikopter ataupun pesawat kecil lah. Landasan ini untuk mengangkut penumpang-penumpang yang membayar mahal tadi untuk masuk ke dalam Taman Nasional Way Kambas. Ketika ada pesawat, tentu kan hewan yang liar itu akan terganggu dan akan bising. Mungkin juga akan ada polusi udara kali ya,
lanjut Erwan.
Kedua, proyek perdagangan karbon melalui rehabilitasi hutan dan perlindungan kawasan. Brooks berencana menjual serapan karbon di pasar sukarela (voluntary market) internasional, dengan dana yang diharapkan dapat digunakan untuk konservasi di Taman Nasional Way Kambas.




