Jumat, 27 Februari 2026, menjadi hari yang memilukan bagi penggemar sepak bola Italia. Dari empat wakil Serie A di Liga Champions musim ini, hanya Atalanta yang berhasil melaju ke babak 16 besar, sementara raksasa seperti Inter Milan dan Juventus harus tersingkir lebih awal.
Juara bertahan Serie A musim lalu, Napoli, bahkan hanya mampu finis di posisi ke-30 dalam klasemen Fase Liga Champions. Sementara itu, pemimpin klasemen Serie A saat ini, Inter Milan, secara mengejutkan takluk dari Bodo/Glimt dalam pertandingan play-off yang berlangsung di San Siro, Milan, pada Selasa, 24 Februari 2026.
Kegagalan ini bukan kali pertama. Musim ini, dua wakil Italia tersingkir di babak play-off Liga Champions, dan jumlahnya bahkan mencapai tiga pada musim lalu. Sebelumnya, klub-klub Italia juga pernah disingkirkan oleh tim-tim dari Belgia dan Belanda, dan kini giliran klub dari Norwegia dan Turki yang menjadi momok. Nama-nama seperti Ivan Perisic, Noa Lang, Victor Osimhen, hingga Jens Petter Hauge, yang dulu dianggap tidak diperlukan, kini seolah kembali menghantui liga lamanya.
Kondisi ini memicu reaksi berlebihan dari masyarakat. Berbagai klaim sensasional muncul, termasuk perbandingan gaji pemain Bodo/Glimt dengan klub-klub divisi tiga di Italia. Hasil buruk ini kemudian dihubungkan dengan kekhawatiran lama, yakni kemungkinan tim nasional Italia tidak akan berpartisipasi di Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Namun, situasi ini tidak sesederhana itu. Sepak bola Italia memang sedang mengalami “masa sulit”, tetapi masa ini bukanlah sesuatu yang permanen. Apalagi, hasil-hasil lainnya justru menunjukkan situasi yang berbeda.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, klub-klub asal Italia telah berpartisipasi dalam delapan final kompetisi Eropa. Pada awal musim lalu, Serie A bahkan memulai fase liga Liga Champions sebagai pemuncak peringkat koefisien UEFA dengan lima perwakilan. Kegagalan memang selalu meninggalkan kesan yang lebih lama dibandingkan dengan keberhasilan.




