Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino tengah menjadi sorotan publik menyusul serangkaian kejadian kontroversial sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Pria asal Swiss ini dituding memiliki kedekatan spesial dengan Tim Nasional Argentina, memicu pertanyaan tentang objektivitasnya sebagai pemimpin tertinggi sepak bola dunia.
Dalam sebuah video wawancara, Infantino bahkan mengaku “menderita” saat menyaksikan laga babak 32 besar antara Argentina melawan Cape Verde. Pada pertandingan tersebut, La Albiceleste harus berjuang hingga perpanjangan waktu sebelum akhirnya meraih kemenangan tipis 3-2.
Sorotan semakin tajam ketika gol Mostafa Ziko untuk Mesir dianulir dalam pertandingan 16 besar melawan Argentina, yang berakhir dengan kekalahan Mesir 3-2. Keputusan wasit Letexier asal Prancis itu memicu banyak pertanyaan dari warganet.
Hanya berselang beberapa jam setelah insiden tersebut, Infantino terlihat membentangkan bendera Mesir saat menghadiri laga Swiss kontra Kolombia di Vancouver, Kanada. Kemunculan ini semakin memperkuat spekulasi dan perbincangan di media sosial.
Rentetan kejadian yang melibatkan Infantino selama Piala Dunia 2026 ini membuat mata publik tertuju pada pria kelahiran Swiss tersebut. Sejak terpilih sebagai Presiden FIFA pada tahun 2016, menggantikan Sepp Blatter, Infantino memang memiliki jejak kepemimpinan yang penuh catatan.
Profil Gianni Infantino: Dari UEFA hingga Puncak FIFA
Gianni Vincenzo Infantino lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970, dari pasangan keturunan Italia. Pria yang dikenal menguasai berbagai bahasa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Portugis ini merupakan lulusan hukum dari Universitas Fribourg.
Sebelum menjabat di FIFA, Infantino meniti karier di Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) sejak tahun 2000. Ia kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal UEFA pada tahun 2009. Selama di UEFA, Infantino aktif terlibat dalam pengelolaan kompetisi bergengsi seperti Liga Champions dan Piala Eropa, serta penyusunan berbagai regulasi antarklub.
Kariernya di dunia sepak bola memasuki babak baru setelah FIFA diguncang skandal korupsi besar-besaran yang menyeret sejumlah pejabat, termasuk Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter. Dalam Kongres FIFA pada Februari 2016, Infantino terpilih sebagai Presiden FIFA dengan janji untuk mereformasi tata kelola organisasi.
Jejak Reformasi dan Kebijakan Penting
Selama hampir satu dekade memimpin, Infantino memang telah meluncurkan sejumlah reformasi signifikan. Salah satu kebijakan paling menonjol adalah perluasan jumlah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 negara, yang akan mulai berlaku pada edisi 2026.
Perubahan ini dinilai membuka peluang lebih besar bagi negara-negara yang sebelumnya jarang tampil di turnamen akbar, seperti Cape Verde, Curacao, Haiti, dan Uzbekistan, untuk merasakan atmosfer kompetisi sepak bola tertinggi di dunia.



