Striker asal Denmark, Rasmus Hojlund, kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan perasaannya terkait kepindahan ke Napoli. Pernyataannya ini secara tersirat menyiratkan kritik terhadap mantan klubnya, Manchester United, serta pelatihnya saat itu, Ruben Amorim.

Musim ini, posisi Hojlund di skuad Manchester United memang mulai terpinggirkan. Kedatangan Benjamin Sesko disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang membuat kesempatan bermainnya semakin terbatas, hingga akhirnya ia dipinjamkan ke Napoli.

Menariknya, di klub barunya, performa Hojlund justru kembali menanjak. Ia tampil cukup impresif dengan catatan 14 gol dari 37 pertandingan, sebuah pencapaian yang dinilai cukup untuk membuktikan kualitasnya di lapangan hijau.

Saat ditanya mengenai keputusannya untuk pindah, Hojlund tidak secara langsung menyerang, namun ia menegaskan bahwa ia merasa lebih dihargai di Napoli. “Saya mendapatkan apa yang saya inginkan dari transfer ini,” ujarnya.

Hojlund menambahkan bahwa di Napoli, ia merasakan kepercayaan penuh dari berbagai pihak, mulai dari pelatih, direktur olahraga, hingga presiden klub. Hal ini berbeda dengan situasi yang ia alami sebelumnya.

Ia juga tidak menutupi perasaannya saat masih berseragam Manchester United. Hojlund mengaku sempat merasa “mentok” di sana. “Saya merasa terjebak di Manchester pada akhirnya. Saya tahu tidak akan banyak kesempatan bermain bagi saya jika situasinya terus seperti ini,” ungkapnya.

Meski demikian, Hojlund tetap menyatakan bahwa ia sebenarnya menikmati masa-masanya bermain di Manchester. Namun, tekanan dari media menjadi salah satu faktor yang cukup memberatkan baginya.

“Sulit untuk tidak membuka ponsel. Dan jika membuka ponsel, pasti Anda akan melihat apa yang ditulis tentang Anda dengan cara tertentu. Sekarang ini bisa di mana saja, tapi seringkali karena ditandai di Instagram atau Facebook. Jadi, menurut saya bohong jika mengklaim bahwa tidak membacanya,” jelas Hojlund dengan santai.

Mengenai performanya yang kini disebut-sebut kembali menemukan sentuhan terbaik di Napoli, Hojlund enggan cepat berpuas diri. Ia justru tetap bersikap kritis terhadap dirinya sendiri, menegaskan bahwa masih banyak aspek yang perlu diperbaiki, mulai dari kontribusi di lapangan hingga target jumlah gol yang ingin terus ia tingkatkan.