Pemerintah Gampong Lamjamee, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, serius menggarap pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Inisiatif ini diwujudkan melalui pengembangan tiga bank sampah (Waste Collection Point/WCP) dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang bertujuan menciptakan lingkungan bersih dan sehat.
Program tersebut tidak hanya mendorong warga untuk memilah sampah dari rumah, tetapi juga merintis produksi pupuk kompos dari sampah organik. Sekretaris Gampong Lamjamee, Yurliadi, menjelaskan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama mengingat gampong tersebut dihuni oleh lebih dari 1.600 jiwa atau sekitar 540 Kepala Keluarga (KK).
Tiga Bank Sampah Aktif dan Pembinaan DLHK3
Wilayah Gampong Lamjamee yang seluas 20 hektar terbagi ke dalam empat dusun: Pote Raja, Diguri, Lam Kuta, dan Jataleb. Di seluruh dusun ini, aparatur gampong secara aktif menggalakkan pemilahan sampah sejak dari rumah.
“Di bidang lingkungan kita sendiri ada di bidang kebersihan, dikursus untuk kebersihan kampung dan kita juga ada WCP untuk pemilahan sampah,” ujar Yurliadi.
Program ini mendapat pembinaan langsung dari Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh. Saat ini, tiga WCP atau bank sampah beroperasi aktif di Gampong Lamjamee. Melalui bank sampah ini, warga diminta memilah sampah kering yang masih memiliki nilai ekonomis, seperti botol plastik, karton, dan kaleng, sebelum disetorkan.
Bank sampah tersebut dikelola secara swadaya oleh sekitar 20 hingga 30 warga. Selain membantu mengurangi volume sampah, hasil penjualan sampah kering juga menjadi tambahan pendapatan bagi para pengelola. Setiap pekan, volume sampah kering yang berhasil dikumpulkan berkisar antara 20 hingga 30 kilogram.
Rintisan Produksi Pupuk Kompos dari Sampah Organik
Keberhasilan pengelolaan sampah anorganik mendorong pemerintah gampong untuk mengembangkan pengolahan sampah organik. Sejak tahun 2025, Gampong Lamjamee mulai merintis pembuatan pupuk kompos melalui fasilitas TPS 3R.
Yurliadi menjelaskan, pemerintah gampong berperan sebagai pembina dan pengatur jalannya program, sementara pengelolaannya dilakukan oleh kader, kader posyandu, ibu-ibu, dan pemuda. “Kampung sendiri terlibat sebagai pembinanya sendiri yang mengaturnya, sedangkan yang mengelolanya adalah dari kader, ada dari kader posyandu, dan juga ada ibu-ibu, anak muda,” tuturnya.
Sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan nasi, dikumpulkan melalui dua cara: diantar langsung oleh warga atau dijemput oleh tim pengelola TPS 3R. Sampah kering seperti botol plastik, karton, dan kaleng dipilah karena masih memiliki nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan kembali.
Meski berjalan rutin di beberapa dusun, produksi pupuk kompos masih dalam tahap perintisan. Hasil olahan kompos saat ini baru dimanfaatkan untuk kebutuhan internal para pengelola dan belum diproduksi secara massal.
Yurliadi mengatakan, pihaknya masih mempelajari kualitas pupuk yang dihasilkan sekaligus mengevaluasi berbagai kekurangan sebelum dikembangkan lebih luas. “Belum ada produk jadi karena kami juga baru memulainya. Rencana kami ke depan siapa tahu ini bisa berkelanjutan, akan kami coba untuk membuat pupuk buatan sendiri. Sekarang masih untuk sendiri saja dulu. Kita mau lihat juga kapasitas protein pupuknya bagaimana, apa kekurangannya, harus kita pelajari lagi,” jelasnya.
Pemerintah Gampong Lamjamee berkomitmen untuk terus mengevaluasi pengelolaan kompos sekaligus meningkatkan sosialisasi kepada warga yang belum memilah sampah, demi meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan secara menyeluruh.




