yang akan segera digelar di Milan dan , Italia, menghadapi tantangan iklim yang signifikan. Pemanasan global telah mengubah lanskap olahraga musim dingin, memaksa penyelenggara untuk sangat bergantung pada teknologi demi kelancaran kompetisi.

Cortina Tak Lagi Sedigin Dulu

Kondisi iklim di Cortina d’Ampezzo telah berubah drastis sejak terakhir kali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1956. Data menunjukkan bahwa suhu rata-rata bulan Februari di wilayah tersebut telah meningkat sekitar 3,6 derajat Celsius. Peningkatan suhu ini berdampak langsung pada berkurangnya jumlah hari bersuhu di bawah nol derajat, yang kini turun sekitar 41 hari atau 19 persen dari sebelumnya. Akibatnya, durasi musim dingin yang ideal untuk olahraga salju menjadi jauh lebih pendek.

Salju Buatan Jadi Andalan

Untuk memastikan lintasan tetap aman dan layak digunakan, panitia penyelenggara Olimpiade Musim Dingin 2026 akan memproduksi lebih dari 3 juta yard kubik salju buatan. Penggunaan teknologi salju buatan (artificial snow) ini menjadi simbol pergeseran besar dalam sejarah Olimpiade, di mana olahraga musim dingin kini semakin bergantung pada intervensi manusia untuk bisa tetap berjalan. Salju buatan dibuat menggunakan mesin snow cannon yang menyemprotkan air bertekanan tinggi pada suhu dingin, namun proses ini membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar, menimbulkan kekhawatiran tentang dampak lingkungan lokal.

Perubahan Iklim Mengancam Lokasi Olimpiade

Dampak tidak hanya dirasakan di Cortina. Analisis menunjukkan bahwa dari 93 lokasi potensial penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin, hanya 52 yang diperkirakan masih memiliki kondisi iklim yang memadai pada tahun 2050-an. Jumlah ini diprediksi akan merosot hingga hanya 30 lokasi pada tahun 2080-an, tergantung pada upaya global dalam menekan emisi karbon. Situasi ini bahkan lebih suram untuk Paralimpiade Musim Dingin, yang sering kali terpengaruh oleh suhu yang lebih hangat.

IOC Pertimbangkan Perubahan Jadwal

Menanggapi krisis iklim ini, Komite Olimpiade Internasional (IOC) tengah mempertimbangkan untuk memajukan jadwal Olimpiade Musim Dingin dari Februari ke Januari. Langkah ini diambil untuk meningkatkan peluang adanya salju alami dan suhu yang lebih stabil, serta untuk menyesuaikan jadwal dengan Paralimpiade Musim Dingin. Namun, perubahan jadwal ini juga menimbulkan tantangan baru, termasuk potensi bentrokan dengan kompetisi olahraga besar lainnya dan dampaknya pada liga profesional.

Inovasi Teknologi dan Keberlanjutan

Di tengah tantangan iklim, Olimpiade Musim Dingin 2026 juga menandai era baru dalam integrasi teknologi. Sistem AI Judging Support digunakan dalam cabang Freestyle Skiing untuk memberikan penilaian yang lebih objektif dan presisi terhadap aksi atlet. Selain itu, penyelenggara juga berkomitmen pada keberlanjutan dengan menggunakan 92% fasilitas yang sudah ada atau bersifat sementara, serta 100% energi terbarukan bersertifikat untuk seluruh operasional pertandingan.