Michael Bambang Hartono, salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah bisnis modern Indonesia, dikabarkan wafat pada Kamis, 19 Maret 2026. Pendiri Grup Djarum dan pemilik saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) ini menghembuskan napas terakhir pada usia 86 tahun.
Kabar duka tersebut telah dikonfirmasi oleh perwakilan Grup Djarum. Menurut keterangan resmi, sang maestro bisnis berpulang pada pukul 13.15 waktu Singapura, di mana ia diketahui sedang menjalani perawatan.
Warisan Bisnis dari Kretek hingga Konglomerasi Global
Lahir pada 2 Oktober 1939, Michael Bambang Hartono tumbuh dalam keluarga yang telah memiliki fondasi bisnis melalui ayahnya, Oei Wie Gwan. Di bawah kepemimpinannya bersama sang saudara, Robert Budi Hartono, Djarum bertransformasi dari perusahaan rokok yang nyaris bangkrut di era 1950-an menjadi raksasa industri tembakau nasional.
Visi bisnis Michael tidak berhenti pada industri kretek. Ia bersama saudaranya memperluas cakrawala bisnis ke berbagai sektor, termasuk perbankan, properti, elektronik, hingga digital. Salah satu langkah paling monumental adalah akuisisi saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA) pasca krisis moneter 1997–1998.
Keputusan strategis tersebut terbukti menjadi tonggak kebangkitan imperium finansial keluarga Hartono. Kini, BCA dikenal sebagai salah satu bank terbesar dan paling stabil di Asia Tenggara, menjadi simbol keberhasilan strategi jangka panjang yang visioner.
Kekayaan dan Pengaruh di Berbagai Sektor
Menurut data terbaru dari Forbes, Michael Bambang Hartono memiliki kekayaan sekitar US$17,5 miliar atau setara Rp274 triliun. Angka ini secara konsisten menempatkannya dalam jajaran elit orang terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara.
Pengaruh Michael Bambang Hartono dan keluarga terasa dalam berbagai sektor strategis. Selain BCA, mereka juga memiliki pusat perbelanjaan ikonik seperti Grand Indonesia, serta ekspansi teknologi melalui Polytron yang bahkan mulai merambah industri kendaraan listrik.
Di ranah digital, keluarga Hartono turut membesarkan Blibli, salah satu platform e-commerce yang sukses melantai di bursa dan menjadi salah satu penawaran umum perdana (IPO) terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pemilik klub sepak bola Italia, Como 1907, menunjukkan jangkauan bisnisnya yang global.



