Sabtu, 21 Maret 2026 – Di tengah gejolak politik domestik dan ketegangan geopolitik global, Hari Raya Idulfitri hadir sebagai momentum krusial untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan. Lebih dari sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah sebulan penuh ibadah Ramadan, Idulfitri memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan nilai-nilai kebersamaan.
Tradisi saling memaafkan yang melekat erat dalam perayaan Idulfitri seharusnya dimaknai lebih dalam, melampaui sekadar formalitas atau jabat tangan fisik. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa hakikat Idulfitri adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antarmanusia, termasuk dalam konteks kehidupan berbangsa.
Idulfitri: Bukan Sekadar Formalitas Maaf
Menurut Prof. Achmad, tradisi saling memaafkan yang rutin terjadi setiap Idulfitri tidak sepatutnya berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata. Ia menekankan pentingnya keikhlasan dalam proses tersebut.
“Maaf dalam IdulFitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujar Prof. Achmad pada Kamis (19/3) di Jakarta.
Nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran fundamental dalam Islam. Al-Qur’an secara eksplisit memuji individu yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini termaktub dalam Qur’an Surah Ali Imran 3:134:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Risalah Nasional untuk Persatuan
Prof. Achmad melanjutkan, semangat memaafkan tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan saat ini yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik. Dalam konteks inilah, Idulfitri dapat berfungsi sebagai “risalah nasional” yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan.
“Idulfitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” pungkasnya.




