Suasana hangat dan penuh toleransi menyelimuti gelaran Imlek Festival 2577 yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta. Sejak 22 Februari hingga 3 Maret 2026, festival ini menjadi magnet bagi berbagai kalangan, termasuk Saras, Reni, dan Rita, tiga pekerja kantoran yang sengaja menyambangi lokasi untuk berburu takjil dan menikmati momen berbuka puasa bersama.
Meski festival ini berakar pada tradisi Tionghoa, ketiganya merasakan keberagaman yang ditawarkan justru memberikan warna tersendiri di tengah bulan Ramadan. “Acaranya seru, makanannya banyak. Jadi, ke sini (festival imlek) buat coba-coba (kuliner), ya,” ujar Saras saat ditemui di lokasi festival pada Selasa (24/2).
Mereka terlihat antusias menikmati berbagai hidangan yang dibeli dari gerai-gerai UMKM di area festival. Mi ayam menjadi menu favorit Rita, sementara Reni dan Saras sangat menikmati kesegaran es teh di tengah suasana festival yang meriah. Bagi mereka, kehadiran Imlek Festival di tengah bulan suci Ramadan bukan merupakan suatu pertentangan, melainkan bentuk keindahan toleransi yang nyata di Indonesia.
Ke depan, mereka berharap acara serupa dapat terus dikembangkan dengan skala yang lebih besar. “Mungkin lebih banyak adain kegiatan seni kreasi kayak gini ya, biar kebudayaan juga nyatu di sini,” tambah Saras, mewakili harapan teman-temannya.
Imlek Festival 2577 merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Festival ini menjadi contoh sinergi dalam mengangkat budaya sebagai kekuatan bangsa, tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa, tetapi juga membuka ruang pertemuan budaya Indonesia dengan negara lain, seperti kolaborasi dengan Korea Selatan serta rencana partisipasi dari perwakilan Tiongkok.
Festival ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan berlangsung setiap hari pukul 15.00–22.00 WIB. Informasi lengkap mengenai seluruh rangkaian acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi @imlekfestival.




