Di tengah derasnya arus informasi digital dan perubahan kebiasaan masyarakat, Gampong Lampaseh Kota, Aceh, tetap teguh mempertahankan komitmennya terhadap literasi. Sebuah sudut baca di ruang kantor keuchik kini menjadi penanda upaya gampong tersebut dalam menjaga budaya membaca bagi warganya.

Perpustakaan Gampong Lampaseh Kota, yang telah berdiri sejak tahun 2018, kini memang tidak lagi menempati gedung khusus. Bangunan yang sebelumnya difungsikan sebagai perpustakaan telah dialihfungsikan menjadi Posyantek Edukasi. Namun, koleksi buku yang beragam, termasuk kiriman dari Perpustakaan Nasional, tetap dijaga dan tersedia di sudut baca kantor keuchik.

Geuchik Gampong Lampaseh Kota, Mardali, mengakui bahwa tantangan untuk mempertahankan minat baca di era digital tidaklah ringan. Ia menyoroti bagaimana teknologi telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat secara drastis.

“Ini pengaruh media online. Mereka semua jadi wartawan masyarakat,” ujar Mardali kepada Pintoe.co, Kamis (13/8/2026). Ia menjelaskan bahwa gawai dan media sosial telah mempercepat akses informasi, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru terkait verifikasi kebenaran.

Menurut Mardali, tidak semua informasi yang beredar di ruang digital dapat dipercaya. Ia memperkirakan, “dari sepuluh informasi yang beredar melalui gawai, hanya dua atau tiga yang dapat dipercaya, sementara lainnya belum tentu terverifikasi.” Kondisi ini, lanjutnya, menuntut kebiasaan literasi yang lebih kuat agar masyarakat mampu memilah dan memeriksa kebenaran informasi.

Mardali juga mengenang masa lalu ketika budaya membaca masih sangat kuat, terutama di lingkungan sekolah. Saat itu, siswa terbiasa membaca buku, merangkum isi bacaan, dan menjalani berbagai latihan yang mendorong pembelajaran sistematis. Namun, ia melihat pergeseran signifikan pada kebiasaan generasi muda saat ini.

“Sekarang anak-anak dari SD sampai SMA minat baca mulai berkurang. Bangun pagi pegang ini, mau tidur pegang ini,” tuturnya, menggambarkan dominasi gawai dalam keseharian anak-anak hingga larut malam.

Meski menghadapi tantangan tersebut, pemerintah gampong terus berupaya menerapkan pembiasaan membaca. Dorongan kepada orang tua untuk membimbing anak-anak agar kembali dekat dengan buku menjadi salah satu fokus, meskipun disadari bahwa upaya ini tidak mudah.

Saat ini, aktivitas membaca di Gampong Lampaseh Kota berlangsung di sudut ruang kantor keuchik, berdampingan dengan berbagai kebutuhan administrasi pemerintahan. Ini menunjukkan adaptasi dan komitmen gampong untuk tetap menyediakan akses literasi bagi warganya.

Selain mempertahankan koleksi buku fisik, Gampong Lampaseh Kota juga beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui pemanfaatan ruang digital. Pemerintah gampong telah mengaktifkan situs web resmi yang memuat berbagai informasi, mulai dari profil, kegiatan, hingga program yang sedang berjalan. Keberadaan situs web ini menjadi jembatan bagi gampong untuk menjangkau warga yang kini lebih banyak berinteraksi di dunia maya.

Bagi Mardali, perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan ruang vital untuk menjaga cara pandang dan kebiasaan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital. Ia berharap, selama perpustakaan gampong ini dipertahankan, akan selalu ada kesempatan bagi generasi muda untuk kembali menemukan kebiasaan membaca, perlahan namun pasti, di tengah perubahan zaman.