Kamis, 12 Maret 2026, momen libur Lebaran kembali dinanti masyarakat Indonesia. Setelah sebulan penuh berpuasa, banyak keluarga memanfaatkan waktu ini untuk berkumpul dan berwisata. Kota Cirebon, yang strategis di jalur pantura Jawa Barat, diprediksi akan menjadi salah satu magnet utama bagi wisatawan pada Lebaran 2026.
Cirebon menawarkan perpaduan menarik antara wisata sejarah, religi, kuliner, hingga alam yang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Lokasinya yang mudah dijangkau dari berbagai kota besar seperti Jakarta dan Bandung menjadikannya pilihan favorit. Berikut adalah beberapa destinasi wisata populer di Cirebon yang diperkirakan akan ramai dikunjungi wisatawan selama libur Lebaran 2026.
Keraton Kasepuhan
Salah satu destinasi paling ikonik di Cirebon adalah Keraton Kasepuhan. Bangunan bersejarah ini merupakan peninggalan Kesultanan Cirebon yang telah berdiri sejak abad ke-16. Arsitekturnya menampilkan perpaduan unik dari unsur budaya Jawa, Sunda, Cina, dan Eropa, mencerminkan akulturasi yang kaya di wilayah tersebut.
Di dalam kompleks keraton, pengunjung dapat menjelajahi berbagai benda bersejarah, termasuk kereta kencana Singa Barong yang legendaris, koleksi senjata tradisional, hingga lukisan-lukisan kuno. Selama libur Lebaran, Keraton Kasepuhan biasanya dipadati wisatawan yang ingin mendalami sejarah dan budaya Cirebon.
Keraton Kanoman
Selain Keraton Kasepuhan, wisatawan juga dapat mengunjungi Keraton Kanoman yang tak kalah menarik. Keraton ini masih aktif digunakan oleh keluarga kesultanan dan menyimpan koleksi benda pusaka serta bangunan bersejarah yang terawat dengan baik. Banyak pengunjung datang untuk mengagumi arsitektur klasik dan mengabadikan momen di area keraton yang kental dengan nuansa tradisional khas Cirebon.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Wisata religi menjadi pilihan favorit lain saat libur Lebaran. Salah satu tempat yang sering dikunjungi adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Cirebon dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Didirikan pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, masjid ini menampilkan arsitektur khas dengan pintu-pintu kayu besar dan desain interior yang sederhana namun sarat makna budaya.




