Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meluas dengan serangan rudal serta drone yang kini menjangkau negara-negara Teluk hingga Siprus. Ketegangan yang terus meningkat ini memicu lonjakan tajam harga energi global dan mengguncang pasar dunia.

Eskalasi di Lebanon dan Teluk

Perang udara antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus berlanjut pada Senin (2/3/2026) tanpa tanda-tanda mereda. Konflik kini melebar ke Lebanon setelah Hizbullah, sekutu utama Teheran di kawasan, meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel.

Israel merespons dengan serangan udara besar-besaran ke sejumlah titik di Lebanon yang disebut sebagai basis dan infrastruktur milik Hizbullah, termasuk di wilayah selatan Beirut. Otoritas Lebanon melaporkan puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka akibat serangan tersebut.

Di saat bersamaan, Iran menembakkan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan Teluk, termasuk instalasi militer dan energi yang berkaitan dengan sekutu Amerika Serikat. Serangan serupa juga dilaporkan menjangkau pangkalan militer Inggris di Siprus.

Insiden lain terjadi di Kuwait, di mana tiga jet tempur F-15E milik Amerika Serikat ditembak jatuh secara keliru saat sistem pertahanan udara merespons serangan Iran. Seluruh enam awak pesawat berhasil melontarkan diri dan dievakuasi dalam kondisi selamat. Rekaman video yang diverifikasi kantor berita internasional menunjukkan salah satu jet berputar jatuh dengan mesin terbakar.

Pernyataan Pejabat AS dan Bantahan Iran

Dalam pengarahan resmi pertama sejak operasi dimulai, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan tidak ada batas waktu pasti untuk mengakhiri kampanye militer tersebut. Ia menegaskan, keputusan berada di tangan Presiden Donald Trump. Menurut Hegseth, target operasi adalah melumpuhkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menambahkan bahwa lebih dari 1.000 target telah diserang dalam 24 jam pertama operasi. Caine menegaskan misi ini bukan operasi satu malam dan memerlukan waktu untuk mencapai seluruh sasaran militer.

Sementara itu, Iran membantah tudingan tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran menyatakan serangan AS-Israel terjadi saat pembicaraan mengenai pembatasan program nuklir masih berlangsung. Iran menegaskan tindakannya merupakan bentuk pembelaan diri.

Dampak Global dan Situasi Internal Iran

Di dalam negeri Iran, situasi dilaporkan tegang. Sejumlah warga meninggalkan kota-kota besar di tengah gelombang serangan udara. Laporan korban sipil terus bertambah, termasuk akibat serangan yang mengenai fasilitas non-militer.

Eskalasi konflik turut mengguncang pasar global. Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—memicu lonjakan harga energi saat perdagangan dibuka. Pasar saham melemah dan nilai tukar dolar menguat.

Sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk menjadi sasaran serangan drone dan rudal, mendorong penghentian sementara produksi di beberapa negara produsen utama. Data pelayaran menunjukkan ratusan kapal tanker memilih berlabuh untuk menghindari risiko serangan.

Operasi militer yang berpotensi berlangsung lama ini juga membawa risiko politik di dalam negeri Amerika Serikat, dengan dukungan publik yang dilaporkan terbatas terhadap kampanye tersebut. Konflik yang awalnya berfokus pada Iran kini berkembang menjadi ketegangan regional yang melibatkan aktor-aktor proksi, terutama Hizbullah di Lebanon, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan perang yang lebih luas di Timur Tengah.