Kiper Manchester United, Senne Lammens, menyoroti kondisi mental timnya yang tidak prima saat menghadapi Newcastle United dalam laga lanjutan Premier League 2025/2026. Manchester United secara mengejutkan takluk 1-2 dari Newcastle, padahal tim tuan rumah bermain dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.

Pertandingan pekan ke-29 Premier League tersebut berlangsung di St James Park pada tengah pekan lalu. Laga berjalan ketat dan kedudukan sempat imbang 1-1 hingga jeda pertandingan.

Namun, Newcastle United harus kehilangan Jacob Ramsey yang diganjar kartu kuning kedua di penghujung babak pertama, membuat mereka harus melanjutkan laga dengan 10 pemain. Situasi ini seharusnya menjadi keuntungan besar bagi Setan Merah.

Alih-alih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Manchester United justru kebobolan dan kalah 1-2. Lammens mengakui bahwa timnya memang layak menerima kekalahan tersebut.

Mentalitas Tim yang Mengecewakan

“Saya rasa kami harus bermain dengan mentalitas yang lebih baik lagi,” ujar Lammens kepada TNT Sports, mengomentari kekalahan timnya.

Menurut Lammens, Manchester United seharusnya mampu tampil lebih baik di babak kedua, terutama setelah unggul jumlah pemain. Ia merasa timnya terlalu santai dan tidak menunjukkan intensitas yang dibutuhkan untuk membalikkan keadaan.

“Kami seharusnya tampil dengan lebih baik ketika kami memasuki babak kedua. Kami tidak bermain dengan bagus di segala aspek kami hari ini, dan saya tidak yakin apa yang kurang dari tim kami tadi. Setiap tim memang terkadang mengalami pertandingan seperti ini, namun itu bukan berarti kami membiarkannya begitu saja,” sambungnya.

Pelajaran Berharga

Lammens berharap kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi Manchester United agar tidak mengulangi kesalahan serupa di sisa musim. Ia menekankan pentingnya bermain dengan performa terbaik di setiap laga.

“Kami harus mencoba bermain dengan penampilan terbaik kami di setiap pertandingan. Di pertandingan tadi, kami punya firasat yang bagus karena kami berhasil mencetak gol sebelum babak pertama berakhir,” kata Lammens.

Ia menambahkan, timnya seharusnya bisa “menghabisi” lawan yang bermain dengan 10 orang, namun justru kehilangan ritme permainan. “Melawan 10 pemain, kami ingin untuk menghabisi mereka. Namun kami justru kehilangan ritme permainan kami dan kami harus belajar banyak dari ini,” tandasnya.