Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menepis narasi viral mengenai Norida Akmal Ayob, warga negara Malaysia yang disebut ditelantarkan selama 18 tahun di Lombok. Pemprov NTB menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial dan sejumlah media Malaysia tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.
Klarifikasi ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, pada Selasa, 17 Februari 2026. “Karena itu sangat tidak tepat jika disebut ada penelantaran selama 18 tahun,” kata Ahsanul Khalik.
Ahsanul Khalik, yang akrab disapa Aka, menjelaskan bahwa tim dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB telah melakukan penelusuran. Penelusuran ini melibatkan aparat desa di Dusun Benjelo, Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, serta menghimpun keterangan dari keluarga, kepala dusun, dan kepala desa setempat.
Menurut Aka, Norida Akmal Ayob merupakan warga negara Malaysia yang menikah dengan Badi, seorang warga Lombok Tengah, pada tahun 2005 di Thailand. Setelah pernikahan, pasangan tersebut sempat menetap di Malaysia, tempat anak pertama mereka lahir.
Pada tahun 2007, keluarga Norida dan Badi kembali ke Lombok menyusul meninggalnya ayah Badi. Tak lama berselang, mereka merantau ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit, di mana anak kedua Norida lahir pada tahun 2008. Keluarga ini kemudian berpindah-pindah tempat tinggal sebelum akhirnya kembali menetap di Lombok pada tahun 2021. Saat itu, Badi bekerja di sektor ekspedisi.
Pemerintah Provinsi NTB juga menekankan bahwa kedua anak Norida tetap mendapatkan pendidikan formal. Anak pertama bahkan sempat diterima kuliah melalui program beasiswa Bidikmisi di Universitas Mataram pada tahun 2024, meskipun kemudian tidak dilanjutkan karena perubahan kondisi keluarga.
Kisah rumah tangga Norida dan Badi berakhir dengan perceraian resmi pada 24 Juni 2024. Perceraian ini terjadi setelah Badi diketahui menikah lagi. Dalam proses perceraian tersebut, Norida menerima uang sebesar Rp20 juta yang dimaksudkan untuk membantu biaya kepulangannya ke Malaysia.




