Yerusalem – Untuk pertama kalinya sejak tahun 1967, Masjid Al-Aqsa, salah satu situs suci paling sensitif di Yerusalem, ditutup total pada akhir Ramadan. Penutupan ini memaksa ratusan jemaah Muslim Palestina menunaikan salat Idul Fitri di luar gerbang Kota Tua pada Minggu, 22 Maret 2026.
Keputusan penutupan oleh polisi Israel ini memicu kecaman internasional dan memperburuk ketegangan yang telah berlangsung di Yerusalem. Warga Palestina memandang langkah tersebut sebagai upaya Israel untuk memperketat kontrol atas kompleks al-Haram al-Sharif, yang juga mencakup Kubah Batu abad ke-7.
Hazen Bulbul (48), seorang warga Yerusalem, mengungkapkan kesedihannya. “Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagi jamaah Muslim di Yerusalem. Yang saya takutkan, ini membuka preseden berbahaya… Campur tangan Israel di kota suci telah meningkat sejak 7 Oktober 2023,” ujarnya, seperti dilansir dari The Guardian.
Masjid Al-Aqsa memiliki makna mendalam bagi umat Muslim. Selain sebagai tempat ibadah, situs ini merupakan salah satu tempat suci dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sebelum naik ke surga untuk menerima perintah salat. Al-Aqsa juga pernah menjadi kiblat umat Muslim sebelum beralih ke Masjidil Haram di Mekkah.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di sekitar kompleks Al-Aqsa memang memanas. Terjadi peningkatan penahanan jemaah Palestina dan staf religius, serta serangan berulang oleh pemukim Israel ke kompleks masjid. Kota Tua yang biasanya ramai pun tampak sepi.
Ketegangan semakin terasa dengan insiden ledakan besar pada siang hari, ketika rudal Iran dicegat, menyebabkan kerusakan di Kawasan Yahudi sekitar 400 meter dari Masjid Al-Aqsa.
Menyikapi penutupan ini, Syaikh Ekrima Sabri, khatib Al-Aqsa, mengimbau umat Muslim untuk menunaikan salat Idul Fitri sedekat mungkin dengan masjid. Namun, kehadiran pasukan keamanan yang padat menimbulkan kekhawatiran akan potensi bentrokan.
Penutupan Masjid Al-Aqsa ini segera mendapat kecaman keras dari berbagai organisasi internasional. Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Uni Afrika mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka menegaskan, “Israel, sebagai kekuatan pendudukan, bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini.”
Khalil Assali dari Universitas al-Quds menyebut penutupan ini sebagai “bencana bagi warga Palestina”. Ia menambahkan, “Ketika orang Israel melihat anak-anak muda Palestina mencoba salat di titik terdekat dengan Al-Aqsa, mereka mengejar dan mengusir mereka saat berdoa.”
Idul Fitri di Tengah Reruntuhan Gaza
Sementara itu, di Jalur Gaza, meskipun bombardemen Israel terus berlanjut, warga tetap berupaya merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan kota.
Sadeeqa Omar (32), yang mengungsi ke Deir al-Balah, menyampaikan perasaannya. “Kegembiraan Idul Fitri terasa tidak lengkap. Masing-masing dari kami membawa beban sendiri… namun kami tetap berusaha mengikuti ajaran agama,” katanya.
Di kamp-kamp pengungsian yang padat, aroma kue tradisional tetap menguatkan nuansa Idul Fitri, meskipun banyak anak-anak di sana belum pernah merayakannya secara normal.
Kholoud Baba (42), dari Gaza City, menambahkan, “Minggu lalu, wilayah dekat rumah kami dievakuasi menjelang serangan udara. Orang-orang pergi tanpa membawa apa pun. Ini membuat perayaan tetap terasa berat.”
Di tengah kesedihan dan keterbatasan, perayaan Idul Fitri di Gaza tetap menjadi simbol ketahanan, dirayakan dengan cara yang penuh perjuangan dan kenangan.




