Raksasa ritel fesyen asal Swedia, H&M, mengumumkan rencana penutupan 160 tokonya di berbagai negara sepanjang tahun 2026. Langkah strategis ini merupakan bagian dari transformasi besar perusahaan yang kini memprioritaskan pengembangan bisnis e-commerce serta optimalisasi gerai fisik yang dinilai lebih menguntungkan.

Sebelumnya, H&M juga telah melakukan penutupan 163 toko secara global. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap perubahan signifikan perilaku konsumen yang semakin beralih ke platform belanja daring, sekaligus upaya perusahaan untuk berinvestasi pada lokasi-lokasi dengan performa terbaik.

Penyesuaian strategi ini turut memberikan dampak pada kinerja keuangan perusahaan. H&M mencatat sedikit penurunan laba pada kuartal I-2026, seiring dengan proses pengurangan jumlah toko fisik yang sedang berlangsung.

Dalam laporan pendapatannya, H&M menjelaskan bahwa optimalisasi portofolio toko memberikan dampak negatif terhadap penjualan pada awal tahun.

“Optimalisasi portofolio toko telah berdampak agak negatif pada penjualan kuartal I-2026 karena penutupan dan pembangunan kembali toko,” tulis perusahaan, dikutip dari The Sun, Rabu (8/4/2026).

Meskipun demikian, perusahaan menyatakan optimisme bahwa langkah-langkah ini akan memberikan hasil positif dalam jangka panjang. Sepanjang tahun 2026, efek dari optimalisasi toko diperkirakan akan mulai berdampak positif terhadap penjualan sekaligus meningkatkan profitabilitas H&M secara keseluruhan.