Dunia teknologi dan olahraga bela diri dikejutkan dengan gelaran kompetisi pertarungan robot humanoid pertama di dunia di China. Ajang bertajuk Ultimate Robot Knock-out Legend (URKL) ini menampilkan duel sengit di dalam arena, bahkan dengan insiden dramatis di mana salah satu robot tetap membalikkan keadaan meski ‘kepala’nya terlepas.
Kompetisi perdana URKL secara resmi dibuka di Nanshan Cultural and Sports Center, Shenzhen, China. Dalam laga pembuka, dua robot tipe T800 yang identik saling beradu pukulan dan tendangan di dalam arena berbentuk heksagon.
Aksi pertarungan robot ini turut disaksikan langsung oleh aktor bela diri legendaris, Donnie Yen. Bintang film Ip Man tersebut mengaku terpukau dengan kecepatan, daya ledak, serta ketepatan gerakan kedua robot di atas arena.
“Sebelumnya saya hanya bisa melihat pertarungan robot di film-film fiksi ilmiah,” ujar Donnie Yen, dikutip dari South China Morning Post. “Hari ini, melihat robot nyata bertarung dan berkompetisi dari jarak dekat, menyaksikan terobosan bersejarah ini secara langsung, sensasinya benar-benar jauh berbeda,” tambahnya.
Kepala Copot, Tetap Membalikkan Keadaan!
Dua robot yang bertanding di laga pembuka memiliki tinggi 1,73 meter dengan bobot 75 kilogram, mewakili tim Bullfighter dan White Eagle. Pertarungan berlangsung sangat sengit, di mana robot White Eagle sempat melancarkan tendangan memutar (tornado kick) yang presisi.
Hantaman keras tersebut mengenai bagian kepala robot Bullfighter, menyebabkan modul sensor di bagian kepalanya terlepas dan terlempar. Uniknya, meski telah kehilangan ‘kepalanya’, robot Bullfighter tidak langsung mati total. Berbekal sistem algoritma canggih pada bagian batang tubuh utamanya, robot ini masih mampu membaca pergerakan lawan, bertahan, hingga melancarkan serangan balik.
Bullfighter akhirnya sukses membalikkan kedudukan dan mengunci kemenangan dramatis dengan skor akhir 3-2.
Perebutkan Hadiah Sabuk Emas Senilai Rp26,5 Miliar
Ajang URKL ini bukan sekadar pameran teknologi biasa. Antusiasme peserta tercatat sangat tinggi, dengan lebih dari 200 tim dari belasan negara mendaftar. Setelah melalui seleksi ketat, terpilih 32 tim dari universitas dan lembaga penelitian elite dunia, termasuk Universitas Tsinghua, Stanford, HKU, hingga Universitas Zhejiang, untuk bersaing memperebutkan sabuk emas senilai Rp26,5 miliar.




