Konten kreator sekaligus pengusaha muda Yoshua Marcellos, atau yang akrab disapa Cellos, secara resmi mengambil langkah hukum terkait maraknya pembajakan gelaran Byon Combat miliknya. Didampingi tim kuasa hukum, ia mendatangi Polda Metro Jaya pada Rabu, 25 Februari 2026, untuk memastikan proses penyelidikan terhadap para pelaku terus berjalan.

Dalam kasus ini, seorang pria asal Makassar berinisial BM telah naik ke tahap penyidikan setelah menyiarkan ulang acara tersebut secara ilegal melalui siaran langsung di platform TikTok.

Bagi Cellos, pembajakan bukan persoalan sepele. Ia menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius bagi kelangsungan industri kreatif, khususnya sportainment, yang menjadi ladang penghidupan banyak orang. “Terus ada orang-orang entah iseng atau tahu apa ya, yang dia melaksanakan kultur bobrok pembajakan. Salah satu pembunuh industri juga. Sedangkan banyak orang yang bergantung ke industri ini gitu lho, banyak orang yang makan dari sini, banyak orang yang hidup dari sini,” ujar Cellos.

Menyikapi hal tersebut, Cellos menegaskan komitmennya untuk tidak pandang bulu dalam menindak para pembajak. “Ya kita lihatin ajalah prosesnya seperti apa. Intinya ya next pasti akan jauh lebih banyak lagi yang dilaporkan. Kita enggak pandang bulu karena satu-satunya cara melawan pembajakan itu cuma zero tolerance. Jadi kita akan ada nol toleransi untuk semua pembajakan,” lanjutnya.

Cellos berharap langkah hukum ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai kementerian terkait guna menjaga pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Penegakan hukum yang kuat dinilai menjadi kunci agar para pemilik kekayaan intelektual (IP) dapat terus berkarya tanpa rasa khawatir. Manajemen Byon Combat juga aktif memantau berbagai platform digital lain yang diduga menjadi tempat penyebaran konten ilegal. Cellos memastikan setiap laporan akan dikawal secara profesional hingga tuntas.

Belajar dari Perjuangan Industri Film Nasional

Langkah tegas ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual. Cellos mencontohkan industri film nasional yang telah lama berjuang melawan pembajakan hingga akhirnya mampu bangkit dan meraih kesuksesan besar. Ia menyinggung pencapaian film Agak Laen yang berhasil menembus jutaan penonton sebagai bukti bahwa industri dapat maju jika pembajakan ditekan.

“Menurut saya industri film juga sudah fight pembajakan dari jauh-jauh lampau sampai sekarang akhirnya sukses. Kita melihat industri kita maju, ada penonton yang 10 juta kayak Agak Laen. Jadi ya memang ini adalah pekerjaan yang terus-menerus, ini perang terus-menerus, ini perang berkelanjutan gitu. Jadi kita kerjain satu-satu,” ujarnya.

Menurut Cellos, kebiasaan menonton atau menyebarkan konten ilegal adalah budaya buruk yang harus diberantas sampai ke akar-akarnya demi masa depan industri kreatif Indonesia.