Dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero), Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga Jumat, 27 Maret 2026, masih belum dapat melintasi Selat Hormuz. Jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia ini dinilai berisiko tinggi di tengah konflik yang masih berlangsung, meskipun sejumlah negara lain telah berhasil mendapatkan akses.
PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku pemilik kapal terus berupaya melakukan negosiasi. Namun, proses tersebut menghadapi kendala berupa antrean panjang dan tingginya risiko keamanan.
Negosiasi Panjang dan Risiko Tinggi
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa perusahaan terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pihak berwenang.
“Sampai saat ini posisi kapal milik Pertamina masih belum melintas Selat Hormuz dan kami terus monitor serta koordinasi dengan pihak berwenang,” ujar Baron, dikutip dari Bloomberg Technoz, Jumat, 27 Maret 2026.
Baron menambahkan, kendala ini tidak hanya dialami Pertamina, melainkan juga negara-negara lain. “Sampai dengan saat ini kendala dan upaya yang dihadapi semua negara sama, semua melihat ada risiko besar melintas Selat Hormuz,” tegasnya.
Senada, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut proses diplomasi masih berjalan dan menghadapi antrean panjang. “Masih dalam negosiasi. Ini kan antreannya panjang. Kasih kami waktu. Masih negosiasi,” kata Bahlil.
Kedua kapal tersebut saat ini masih berada di kawasan Teluk Persia. Pertamina Pride difokuskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sementara Gamsunoro melayani pihak ketiga. Sebelumnya, dua kapal PIS lainnya, PIS Rinjani dan PIS Paragon, telah berhasil keluar dari wilayah konflik dan kembali melayani distribusi energi.
Negara Lain Mulai Melintas
Di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung untuk Pertamina, sejumlah negara dilaporkan mulai mendapatkan akses melintasi Selat Hormuz. Kapal tanker dari Malaysia dan Thailand telah berhasil melewati jalur tersebut setelah memperoleh izin dari Iran.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebelumnya menyampaikan bahwa Iran telah mengizinkan kapal negaranya yang sempat terjebak di Teluk Persia untuk kembali melalui Selat Hormuz. Sementara itu, perusahaan energi Thailand, Bangchak Corporation Public Company Limited, juga melaporkan kapal tankernya telah meninggalkan kawasan tersebut dan tengah menuju Samudra Hindia untuk mengirimkan minyak mentah pada awal April.
Selain Malaysia dan Thailand, Iran juga disebut memberikan akses terbatas bagi sejumlah negara yang dianggap tidak bermusuhan, seperti China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan, dengan syarat tetap melakukan koordinasi dengan otoritas setempat.
Kebijakan Iran dan Dampak Global
Iran sendiri menegaskan bahwa kapal asing diperbolehkan melintas selama tidak mendukung tindakan agresi terhadap negara tersebut dan mengikuti aturan yang ditetapkan. Kebijakan ini juga ditegaskan dalam surat kepada anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO), yang menyebut akses jalur aman dapat diperoleh melalui koordinasi dengan otoritas Iran.
Duta Besar Iran untuk Korea Selatan, Saeed Koozechi, menambahkan bahwa kapal Korea Selatan juga dapat melintas dengan syarat melakukan konsultasi dengan pemerintah dan militer Iran. Saat ini, sekitar 26 kapal Korea Selatan dengan 180 awak masih tertahan di kawasan tersebut.
Ketergantungan tinggi negara-negara Asia terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk, yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, membuat situasi ini berdampak luas. Penutupan jalur tersebut sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan pasar energi global serta mendorong berbagai negara menerapkan langkah penghematan energi.
Hingga kini, Pertamina memastikan akan terus memonitor perkembangan dan mengupayakan solusi terbaik agar distribusi energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik kawasan.




