Lisnawati, ibu kandung Nizam Syafei (12), resmi melaporkan mantan suaminya, Anwar Satibi, ke Polres Sukabumi pada Kamis, 26 Februari 2026. Laporan ini terkait dugaan pembiaran dan penelantaran anak yang berujung pada kematian tragis pelajar asal Surade tersebut.

Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, mengungkapkan bukti percakapan digital yang menjadi dasar laporan. Percakapan itu menunjukkan respons tidak wajar Anwar saat putranya dalam kondisi kritis, dua hari sebelum Nizam mengembuskan napas terakhir.

“Ketika diminta dibawa ke rumah sakit, jawabnya belum ada waktu, masih sibuk. Kalaupun meninggal, ikhlasin lah,” ujar Krisna Murti menirukan isi percakapan tersebut. Krisna menambahkan, dalam pesan tertanggal 17 Februari 2026, Anwar bahkan disebut sudah membicarakan lokasi pemakaman Nizam, mengindikasikan antisipasi skenario terburuk.

Laporan Resmi ke Polres Sukabumi

Atas dasar bukti percakapan dan rangkaian peristiwa menjelang kematian Nizam, pihak keluarga resmi melaporkan Anwar ke Polres Sukabumi dengan nomor register STPLB/106/II/2026/SPKT. Laporan tersebut menjerat Anwar dengan dugaan pelanggaran Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Perlindungan Anak terkait pembiaran dan penelantaran anak.

Krisna Murti mendesak aparat kepolisian mengusut dugaan penelantaran ini secara profesional dan transparan. “Kami meminta kepolisian segera memproses kasus ini. Ada bukti percakapan yang menunjukkan ketidakwajaran respons seorang ayah saat anaknya dalam kondisi kritis,” tegasnya.

Kondisi Nizam Sebelum Meninggal

Kecurigaan keluarga kian menguat setelah melihat kondisi fisik Nizam saat meninggal. Pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka lebam, bekas luka bakar, hingga kulit melepuh di beberapa bagian. Temuan ini mempertebal dugaan bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal dunia.

Nizam diketahui sehari-hari tinggal di pondok pesantren dan baru pulang ke rumah untuk persiapan menyambut bulan puasa. Saat kondisinya menurun drastis, istri Anwar sempat menghubunginya agar segera pulang. Setibanya di rumah, Nizam langsung dilarikan ke RSUD Jampangkulon, namun nyawanya sudah tidak tertolong.

Kontras dengan Pengakuan Anwar

Sikap Anwar yang meminta keluarga mengikhlaskan jika Nizam meninggal ini kontras dengan pengakuannya di podcast Denny Sumargo. Dalam wawancara tersebut, Anwar mengaku sangat terpukul dan menangis semalaman usai kepergian putranya.

“Saya serba salah karena saya tahu otopsi itu seperti apa. Saya tahu di sisi lain ini ada kejanggalan yang harus dibuka. Di sisi lain kasihan. Tapi saya memilih untuk melakukan otopsi,” ujar Anwar saat itu.

Publik kini semakin menyoroti tidak hanya dugaan kekerasan oleh ibu tiri, tetapi juga peran ayah kandung yang diduga melakukan pembiaran sebelum kematian Nizam. Kasus ini pun semakin kompleks dengan dua laporan berbeda, yakni dugaan penganiayaan oleh ibu tiri dan dugaan penelantaran oleh ayah kandung.

Polres Sukabumi masih terus melakukan penyidikan dengan pendekatan scientific crime investigation dan menunggu hasil laboratorium forensik dari Pusdokkes Polri untuk menentukan penyebab pasti kematian Nizam.