Ribuan titik cahaya obor perlahan menerangi kegelapan malam di Desa Bakung Kidul dan Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga sesepuh, bergerak dalam pawai khidmat menuju Situs Surang. Tak ada sekat jabatan atau kedudukan, semua menyatu dalam perjalanan yang sama, merayakan tradisi Ngunjung Buyut Ki Gede Bakung pada malam 1 Suro.

Pawai obor ini bukan sekadar ritual tahunan bagi masyarakat Bakung. Ia adalah sebuah perjalanan simbolis, kembali kepada akar sejarah dan jejak para leluhur yang telah meletakkan fondasi kehidupan. Cahaya obor yang menembus gelap malam seakan merefleksikan perjalanan manusia yang selalu bergerak di antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Di sepanjang jalan menuju situs, setiap langkah kaki mengulang pesan yang sama dari generasi ke generasi: manusia boleh berubah mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan akar yang membuatnya tetap berdiri tegak.

Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat sekaligus tokoh pemuda Desa Bakung Kidul, Bambang Mujiarto ST, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa tradisi dan kemajuan zaman tidak seharusnya dipertentangkan. Menurutnya, masyarakat harus mampu menempatkan sejarah sebagai akar kehidupan, sementara masa depan menjadi tujuan yang ingin dicapai bersama.

Pondasi Masa Lalu, Tujuan Masa Depan

Bambang Mujiarto menjelaskan pentingnya memahami warisan leluhur sebagai kompas dalam pembangunan hari ini. “Perjalanan masa lalu adalah kompas bagi masa sekarang. Apa yang diwariskan leluhur menjadi pondasi yang membuat kita memahami arah pembangunan hari ini. Kita melihat kembali sejarah sebagai akar, dan melihat masa depan sebagai tujuan,” ujar Bambang.

Ia menambahkan, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dalam pandangannya, malam 1 Suro lebih dari sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa atau Hijriah. Malam tersebut merupakan momentum perenungan mendalam tentang perjalanan hidup manusia.