Liverpool FC kembali harus menelan pil pahit usai ditaklukkan Brighton & Hove Albion dengan skor 1-2 dalam laga Liga Inggris di Falmer Stadium, Sabtu (21/3/2026). Kekalahan ini tak hanya menambah daftar hasil minor, namun juga menyisakan luka mendalam bagi pelatih Arne Slot.

Dua gol dari Danny Welbeck menjadi mimpi buruk bagi The Reds, seolah menegaskan kerapuhan ambisi besar mereka musim ini. Satu-satunya gol balasan dari Milos Kerkez tak cukup menyelamatkan Liverpool dari kekalahan yang kian terasa familiar.

Arne Slot, dengan nada bicara yang dingin namun penuh kepedihan, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia melihat kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, melainkan pola kegagalan yang berulang.

“Kekalahan ini sangat menyakitkan. Dan seharusnya memang menyakitkan bagi kami,” ujar Slot, kalimat yang sarat dengan keputusasaan, seolah ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri, mencoba memahami lingkaran kegagalan kecil yang terus menjerat timnya.

Pelatih asal Belanda itu kembali mengingat poin-poin krusial yang hilang sebelumnya. Gol menit akhir dari defleksi tak beruntung saat melawan Wolverhampton Wanderers, serta kekalahan di menit ke-90 dari Tottenham Hotspur, disebutnya bahkan lebih menyakitkan daripada hasil di Brighton.

Ini bukan sekadar serangkaian hasil buruk, melainkan akumulasi dari kerapuhan mental yang tak kunjung dapat diperbaiki oleh skuad asuhan Slot.

Ironisnya, Liverpool bukanlah tim yang kekurangan sumber daya. Dengan investasi sekitar 450 juta poundsterling, angka yang seharusnya cukup untuk membangun tim juara, The Reds justru terjebak dalam performa inkonsisten.

Seperti yang disindir Slot dengan getir, uang sebesar itu seharusnya memperkuat tim hebat, bukan sekadar memperindah kegagalan yang terus terjadi.

Kini, Liverpool tertahan di peringkat kelima klasemen Liga Inggris, tertinggal dari Manchester United dan semakin jauh dari zona empat besar. Peluang untuk berlaga di Liga Champions musim depan mulai terasa seperti mimpi yang perlahan menjauh, bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena tim terus menyabotase diri sendiri.