Cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan tinggi yang melanda sejak akhir tahun lalu hingga Februari 2026 telah memberikan dampak signifikan pada sektor pertanian di Kabupaten Cirebon. Petani hortikultura menjadi kelompok yang paling merasakan imbasnya, terutama pada komoditas yang sedang memasuki fase pembungaan.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Durahman J. Supena, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan memicu peningkatan kelembapan. Kondisi ini, menurutnya, “membuat tingkat kelembapan meningkat sehingga memicu munculnya berbagai jenis jamur pada tanaman. Hal ini juga menyebabkan bunga pada tanaman mangga banyak yang rontok sehingga berpotensi menurunkan hasil panen.”
Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi pertumbuhan sejumlah komoditas hortikultura, khususnya tanaman seperti mangga dan bawang merah yang dikenal sensitif terhadap perubahan iklim. Kerontokan bunga mangga, misalnya, secara langsung mengancam potensi panen dan pendapatan petani.
Berbeda dengan hortikultura, dampak cuaca ekstrem terhadap komoditas perkebunan dinilai tidak terlalu signifikan. Sebagian besar tanaman perkebunan memanfaatkan bagian batang atau kayunya, sehingga ketahanannya terhadap kondisi cuaca ekstrem lebih baik dibandingkan tanaman hortikultura.
Meskipun demikian, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon terus melakukan pemantauan intensif dan pendampingan kepada para petani. Upaya ini bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif cuaca ekstrem dan memastikan produktivitas pertanian di wilayah tersebut tetap terjaga.



