Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Banda Aceh dalam dua hari terakhir, sejak Kamis, 5 Maret 2026. Kondisi ini diduga kuat dipicu oleh kekhawatiran masyarakat setelah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Bahlil sebelumnya menyebutkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional hanya cukup sekitar 20 hari jika terjadi gangguan akibat ketegangan geopolitik Iran–Israel.

Gejala panic buying mulai terlihat sejak Kamis dan berlanjut hingga Jumat, 6 Maret 2026. Sejumlah warga memilih mengisi BBM lebih awal karena khawatir akan terjadi kelangkaan. Antrean kendaraan bahkan terlihat memanjang hingga ke badan jalan pada malam hari.

Kekhawatiran Warga dan Pengalaman Sebelumnya

Salah seorang pengendara mobil, Saiful Kamar, menilai antrean panjang tersebut sebagian dipicu perilaku ikut-ikutan di tengah masyarakat. “Budaya masyarakat kita ini sering ikut-ikutan. Ada orang yang antre, yang lain juga ikut. Nanti kalau tidak ikut antre takut minyaknya habis, padahal sebenarnya stok dari Pertamina aman,” kata Saiful pada Kamis malam.

Menurut Saiful, kekhawatiran warga juga dipengaruhi pengalaman saat bencana banjir sebelumnya yang sempat menyebabkan kelangkaan BBM selama beberapa hari. Pengalaman tersebut membuat sebagian masyarakat lebih waspada ketika melihat antrean di SPBU. Ia menambahkan, faktor menjelang arus mudik Hari Raya Idul Fitri juga turut memengaruhi keputusan warga untuk mengisi BBM lebih cepat.

“Mungkin juga orang-orang panik karena pengalaman bencana kemarin. Jadi, ketika melihat situasi seperti ini mereka langsung mengantisipasi. Walaupun dari berita yang kita lihat stoknya masih aman, tapi karena sudah mendekati Lebaran dan ada yang mau pulang kampung, orang jadi memilih berjaga-jaga,” ujarnya.

Situasi di Lapangan dan Jaminan Stok

Petugas kebersihan SPBU, Maujul Bahri, mengatakan antrean kendaraan mulai membludak sekitar pukul 10.00 WIB. Padahal, saat SPBU pertama kali dibuka pada pagi hari, situasi masih relatif sepi, bahkan ketika mobil tangki datang mengisi pasokan BBM.

“Tapi beberapa jam kemudian yang datang antre makin banyak, jadi saya juga kaget. Tapi karena konsumen mengikuti antrean, keadaan tetap tertib,” kata Maujul. Ia menambahkan, dirinya juga membantu mengatur antrean ketika kendaraan mulai memanjang hingga ke badan jalan agar tidak mengganggu lalu lintas.

Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi antrean berbeda di beberapa SPBU. Di SPBU Lambhuk, antrean kendaraan masih tergolong normal dan tidak sampai menimbulkan kemacetan parah. Namun, di SPBU Lingke, antrean kendaraan hingga malam setelah salat tarawih masih mencapai sekitar 300 meter dan mendekati gerbang keluar Kantor Gubernur Aceh. Situasi serupa juga terlihat di SPBU Lamnyong, di mana hingga pukul 23.00 WIB, antrean kendaraan masih terlihat di badan jalan, bahkan memanjang mulai dari depan gerai Recheese Factory Lamnyong.

Sementara itu, pengawas SPBU Lamdingin, Firdaus, memastikan stok BBM di SPBU tersebut masih dalam kondisi aman. Pada hari itu, SPBU Lamdingin menerima dua mobil tangki BBM dengan total sekitar 48 ton, terdiri dari Pertamax 8 ton, Pertalite 16 ton, dan Biosolar 16 ton.

“Untuk solar tidak kami layani karena area kami sempit. Untuk stok minyak insyaallah di SPBU ini aman, ini hanya warga panik saja,” kata Firdaus, menegaskan bahwa ketersediaan BBM tetap terjaga.