Harga emas kembali mencatat kenaikan signifikan pada Kamis, 26 Februari 2026, melanjutkan tren positif yang terlihat dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan ini meliputi produk tabungan emas di Pegadaian serta emas batangan dari berbagai merek seperti Galeri24 dan UBS.

Berdasarkan pembaruan terbaru, harga beli tabungan emas di Pegadaian kini berada di level Rp29.560 per 0,01 gram. Sementara itu, harga jual tercatat Rp28.520 per 0,01 gram, menunjukkan peningkatan dibanding hari sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, grafik harga beli emas di Pegadaian menunjukkan kecenderungan menanjak sejak 20 Februari. Puncak kenaikan sempat terjadi pada 24 Februari sebelum mengalami koreksi tipis, dan hingga 26 Februari, harga relatif stabil di level tinggi. Pola ini mengindikasikan akumulasi pembelian, namun juga bisa menjadi fase konsolidasi sebelum pergerakan berikutnya.

Di pasar emas batangan, sejumlah merek juga melakukan penyesuaian harga mengikuti tren global. Investor dapat mencermati pergerakan harga dari berbagai penyedia.

Harga Emas Batangan Galeri24 dan UBS

Produk Galeri24 untuk ukuran 1 gram berada di kisaran Rp3.057.000, sementara ukuran 10 gram menyentuh Rp29.902.000. Untuk ukuran 100 gram, harganya tercatat Rp297.026.000.

Sementara itu, emas merek UBS dipasarkan sedikit lebih tinggi. Harga 1 gram di angka Rp3.082.000 dan 10 gram sebesar Rp30.060.000. Ukuran 100 gram tercatat Rp299.272.000. Adapun harga untuk merek Antam belum tersedia dalam pembaruan kali ini.

Kenaikan harga emas tidak berdiri sendiri. Ada sejumlah faktor global yang turut memengaruhi arah pergerakannya, termasuk nilai tukar dolar AS dan kebijakan suku bunga bank sentral dunia. Ketika suku bunga cenderung tinggi, daya tarik emas biasanya tertekan karena investor beralih ke instrumen berbunga. Sebaliknya, ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, emas kembali diburu sebagai aset lindung nilai.

Selain faktor global, permintaan domestik juga berperan penting. Tren pembelian emas di dalam negeri kerap meningkat menjelang periode tertentu, baik karena kebutuhan investasi maupun persiapan keuangan jangka panjang. Namun, lonjakan permintaan yang terlalu cepat bisa memicu koreksi harga apabila terjadi aksi ambil untung.

Analis pasar menilai situasi saat ini masih berada dalam fase waspada. Kenaikan memang memberikan sinyal positif, tetapi ruang koreksi tetap terbuka, terutama jika terjadi perubahan kebijakan moneter atau penguatan signifikan dolar AS. Investor ritel disarankan mempertimbangkan strategi bertahap, bukan membeli dalam jumlah besar sekaligus di harga puncak, untuk menghindari risiko volatilitas.