Penulis novel kenamaan Tere Liye turut angkat bicara mengenai kontroversi yang menimpa alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas. Di tengah derasnya kritik publik, Tere Liye justru melontarkan pembelaan dan menyebut reaksi warganet terhadap kasus tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan atau “lebay”.
Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya, Arya Iwantoro, menjadi sorotan setelah sebuah video viral menampilkan pernyataan Dwi yang dinilai kontroversial, khususnya terkait status kewarganegaraan anaknya. Pernyataan “cukup saya saja yang WNI” memicu gelombang hujatan di media sosial.
Tere Liye: “Apa sih dosanya? Sy mulai kesal melihat kasus ini. Lebay.”
Melalui akun media sosialnya, Tere Liye, yang memiliki nama asli Darwis, secara terang-terangan mengkritik respons publik. “Apa sih dosanya? Sy mulai kesal melihat kasus ini. Lebay. Coba dijawab pertanyaan sederhana ini: ‘Apa sih dosa dari orang ini saat anaknya jadi WNA? Dia nyuri? Dia korup? Dia zolim?'” tulis Tere Liye, mempertanyakan dasar hujatan tersebut.
Dalam tulisan panjangnya, Tere Liye membantah tiga tuduhan utama yang dialamatkan kepada Dwi Sasetyaningtyas:
- Penggunaan Uang Negara: Tere Liye mengakui bahwa Dwi Sasetyaningtyas adalah penerima beasiswa LPDP yang didanai APBN. Namun, ia mengingatkan bahwa banyak pihak lain juga menerima bantuan serupa dari negara. “Iya, itu betul. Sama dgn 19 juta penerima kartu pra kerja, 68 triliun. Sama dgn penerima beasiswa bidikmisi. Sama dengan penerima bansos, bantuan gaji, PPh ditanggung negara, ribuan triliun selama 20 tahun terakhir. Pakai duit negara semua. Ratusan juta rakyat netek ke anggaran negara. Coba sy tanya, mana sumbangsih mereka ke negara dari minimal 2.000 triliun dana2 ini 20 tahun terakhir?” tantangnya.
- Menjelek-jelekkan Indonesia: Penulis yang telah berkarya selama dua dekade ini menegaskan bahwa pihak yang sesungguhnya merugikan bangsa adalah koruptor, bukan individu yang menyampaikan pendapat pribadi. “Duh, yg jelek2in Indonesia itu adalah yg korupsi, bancakan uang rakyat lewat proyek2. Yang nepo baby. Yg nyuap, nyogok. Hanya karena dia bilang, cukuplah sy sj yg WNI, itu sih pendapat dia. Yg lain kan banyak nggak sependapat,” tegasnya.
- Pamer dan Haus Validasi: Tere Liye justru balik menyerang para pengkritik dengan argumen serupa. “Wah wah, sy sungguh sedih jika kamu sok bijak pakai argumen ini. Kenapa? Karena kamu jugaaa haus validasi. Coba cek deh akun medsos masing2. Kamu pengen eksis, haus perhatian juga bukan?” tulisnya. Ia bahkan menyindir dengan membandingkan diri sendiri. “Kalian itu bukan Tere Liye, yg 20 tahun terakhir tdk posting foto/video wajahnya. Nah, jika belum bisa kayak Tere Liye, nggak usah nge-judge orang lain suka pamer, haus validasi, dll. Kita sj masih pelaku. Ehem, wah asyik, sy bisa nyombong di tulisan ini. Sengaja sih,” sindirnya.
Lebih lanjut, Tere Liye menyoroti fenomena kemarahan yang dinilainya pilih-pilih di kalangan warganet Indonesia. Ia memberikan contoh isu-isu besar yang luput dari kritik publik, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih (KMP), akun anonim Fufufafa, hingga pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Coba pikirkanlah. Kita itu jangan2 secuil pun tidak pernah mengkritik MBG, KMP, fufufafa, Paman Usman. Tidak pernah bahas Kartu Pra Kerja, pelemahan KPK, kerusakan lingkungan dan semua isu penting di negeri ini; eeeh giliran kasus video LPDP ini, kita bahas berkali2. Coba cek deh akun medsos masing2, bercermin,” tulisnya.
Ia mengajak publik untuk introspeksi dan mempertanyakan kembali esensi “dosa” Dwi Sasetyaningtyas. “Apa sih dosa dari orang ini? Apakah dia nyuri? Korup? Zolim? Jika iya, masukkan ke penjara. Jika tidak? Duh, abaikan sj video haus validasinya. Tuh bahas MBG, KMP,” pungkasnya.




