Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali membunyikan alarm kesiapsiagaan energi Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada jalur logistik laut, ancaman gangguan pasokan energi global berisiko tinggi terhadap stabilitas ekonomi dan kedaulatan nasional.

Ketua Umum Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin), Dr. Datep Purwa Saputra, pada Jumat (27/3/2026) menegaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar terkait ketahanan energi. “Kita tergantung pada negara tetangga yang hanya mengolah minyak, bukan memproduksi. Ketergantungan ini semakin berbahaya, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama pasokan minyak dunia,” jelas Datep.

Menurutnya, Indonesia yang seharusnya menjadi poros maritim dunia, kini harus menghadapi kenyataan rapuhnya ketahanan energi. Ketergantungan pada kilang-kilang di Singapura dan Malaysia untuk mengolah bahan baku minyak mentah dari Timur Tengah menjadi ancaman langsung terhadap kedaulatan energi. “Jika Selat Hormuz terganggu akibat konflik, kita akan langsung terkena dampak buruknya, termasuk lonjakan harga bahan bakar yang mengerek biaya operasional kapal dan menambah beban ekonomi domestik,” ujarnya.

Pramarin menekankan bahwa memperkuat kemandirian energi adalah keharusan. Salah satu langkah strategis yang mendesak adalah pembangunan kilang domestik untuk mengolah minyak mentah secara mandiri. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga strategi pertahanan nasional.

“Kita tidak bisa terus mengandalkan negara tetangga. Pembangunan kilang baru akan memberikan kontrol penuh terhadap pasokan energi nasional,” imbuh Dr. Datep Purwa Saputra.

Ia lebih lanjut menggarisbawahi, penutupan Selat Hormuz akan memicu dampak domino besar pada sektor maritim Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia akan secara langsung memengaruhi tarif angkut, yang pada akhirnya akan mengerek harga barang-barang pokok di pasar domestik.