Pentagon akhirnya mengakui bahwa sebanyak 140 tentara Amerika Serikat (AS) terluka dalam perang 10 hari melawan Iran. Angka ini jauh melampaui delapan personel yang sebelumnya diumumkan, menurut dua sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada Reuters pada Selasa (10/3/2026).

Sebelum laporan Reuters dipublikasikan, Pentagon hanya mengumumkan delapan personel militer AS mengalami luka serius. Setelah laporan tersebut terbit, Pentagon merilis pernyataan yang menyebutkan sekitar 140 personel militer AS terluka, dengan sebagian besar mengalami luka ringan.

“Sejak dimulainya Operation Epic Fury, sekitar 140 prajurit AS terluka selama 10 hari serangan berkelanjutan,” kata juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell.

Parnell menambahkan, 108 prajurit yang terluka telah kembali bertugas. Sementara itu, delapan personel yang mengalami luka serius saat ini mendapatkan perawatan medis tingkat tertinggi. Reuters belum dapat memastikan jenis luka yang dialami para korban, termasuk kemungkinan cedera otak traumatis (TBI) yang sering terjadi akibat paparan ledakan.

Konflik antara AS dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS. Serangan tersebut juga menyasar misi diplomatik di negara-negara Teluk Arab, serta hotel dan bandara, menyebabkan kerusakan pada infrastruktur minyak.

Pentagon menyatakan bahwa jumlah serangan Iran menurun tajam sejak awal perang. Penurunan ini terjadi setelah militer AS menggempur persediaan senjata Iran serta menargetkan peluncur rudal Iran yang jumlahnya terbatas.

Menanggapi pertanyaan apakah Iran menjadi lawan yang lebih kuat dari perkiraan dalam rencana perang AS, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menegaskan bahwa konflik tersebut tidak lebih sulit dari yang diperkirakan. “Saya pikir mereka tetap bertempur dan saya menghormatinya, tetapi saya tidak melihat mereka lebih tangguh dari yang kami perkirakan sebelumnya,” ujar Caine dalam konferensi pers di Pentagon.