Polemik di media sosial antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar memanas. Adu argumen yang semula berpusat pada refleksi filosofis mengenai pemahaman HAM, kini bergeser menjadi serangan personal setelah Pigai melontarkan kritik tajam kepada Zainal pada Rabu, 25 Februari 2026.
Pemicu perdebatan ini adalah pernyataan Natalius Pigai dalam forum Sinkronisasi dan Akselerasi Rapat Koordinasi Instrumen dan Penguatan HAM di Kementerian HAM pada Selasa, 24 Februari 2026. Dalam kesempatan itu, Pigai mengklaim telah memahami HAM sejak usia lima tahun dan menegaskan bahwa setiap pernyataannya selalu berada dalam koridor HAM.
“Semua yang saya ucapkan adalah HAM. Tidak mungkin saya salah di hadapan aktivis, karena saya terkontrol,” ujar Pigai, menegaskan posisinya sebagai pejabat dengan latar belakang aktivis HAM.
Pernyataan tersebut kemudian menuai beragam respons publik, termasuk dari Zainal Arifin Mochtar. Melalui unggahan di media sosialnya, Zainal merespons dengan refleksi bernuansa filosofis. Ia mengunggah tangkapan layar judul berita yang mengutip Pigai, lalu menceritakan pengalamannya memahami bahasa Indonesia dan belajar membaca Al-Quran sejak kecil, namun hingga kini masih dapat melakukan kesalahan.
Zainal juga mengutip pemikiran Imam Al Ghazali mengenai empat jenis manusia: yang tahu dan sadar tahu, yang tahu namun tidak sadar tahu, yang tidak tahu dan sadar tidak tahu, serta yang tidak tahu dan tidak sadar tidak tahu. Ia menutup unggahannya dengan pertanyaan kepada publik mengenai kategori mana yang paling menggambarkan diri mereka.
Natalius Pigai tak tinggal diam. Ia merespons langsung unggahan Zainal dengan menceritakan pengalamannya hidup di tengah konflik bersenjata di Enarotali, Paniai, sejak lahir. Menurut Pigai, pengalaman tersebut membentuk pemahamannya tentang hidup dan mati, keadilan dan ketidakadilan, yang menjadi dasar esensi HAM universal dan perjalanannya sebagai pembela kelompok tertindas hingga menjadi Menteri HAM.
“Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppreso liber). Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini,” kata Pigai pada Rabu (25/2/2026).
Pada bagian akhir tanggapannya, Pigai melontarkan kritik personal yang tajam kepada Zainal Arifin Mochtar. Ia menyebut Zainal sebagai “guru yang dibesar-besarkan”.
“Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yg tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang “dibesar-besarkan”,” pungkas Pigai.
Pertukaran pernyataan antara Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar ini memicu diskusi luas di media sosial. Sejumlah warganet menilai polemik tersebut sebagai debat intelektual, sementara lainnya melihatnya telah berubah menjadi konflik personal antara pejabat negara dan akademisi.




