MADRID, PINTOE.CO — Winger muda SL Benfica, Gianluca Prestianni, menjadi sorotan menjelang laga penentuan Liga Champions UEFA melawan Real Madrid CF di Santiago Bernabéu, Kamis (26/2/2026) dinihari WIB. Meski sedang menjalani skorsing sementara dari UEFA terkait dugaan tindakan rasisme, Prestianni tetap terlihat mengikuti sesi latihan resmi tim sehari sebelum pertandingan krusial tersebut.
Kehadiran pemain Argentina itu di lapangan latihan memicu perhatian publik, mengingat ia tidak akan masuk dalam skuad pertandingan. UEFA masih melakukan penyelidikan disipliner, sehingga Prestianni belum dinyatakan bersalah maupun bebas dari tuduhan.
Insiden di Leg Pertama
Kasus ini bermula pada pertandingan leg pertama di Lisbon, 17 Februari 2026. Setelah penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior, mencetak gol, terjadi adu mulut di dekat garis tepi lapangan. Vinícius kemudian melaporkan kepada wasit bahwa ia merasa menerima penghinaan rasial.
Sesuai protokol anti-diskriminasi UEFA, pertandingan sempat dihentikan beberapa menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali. Laporan resmi dari wasit menjadi dasar bagi UEFA untuk menunjuk penyelidik etik dan disiplin guna memeriksa kemungkinan pelanggaran aturan diskriminasi.
Prestianni sendiri telah membantah tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa insiden itu hanyalah kesalahpahaman ucapan di tengah ketegangan pertandingan.
Status Hukum Olahraga UEFA
Sebagai tindakan pencegahan, UEFA telah menjatuhkan larangan bermain satu pertandingan kepada Prestianni. Akibatnya, ia tidak dapat memperkuat Benfica dalam laga penting melawan Real Madrid, meskipun tetap berlatih bersama tim di Madrid.
Keputusan final mengenai kasus ini belum diumumkan. Jika terbukti bersalah, Prestianni berpotensi menerima larangan bermain yang panjang, yang bisa mencapai sekitar 10 pertandingan atau lebih. Sebaliknya, jika bukti yang ada tidak cukup kuat, sanksi sementara tersebut dapat dicabut.
Preseden Kasus Serupa
Beberapa kasus serupa di masa lalu menunjukkan bahwa beratnya hukuman sangat bergantung pada kekuatan bukti yang ditemukan. Berikut adalah beberapa contoh:
| Kasus | Hukuman |
|---|---|
| Luis Suárez terhadap Patrice Evra | 8 pertandingan |
| Marko Arnautović | 1 pertandingan |
| Bernardo Silva | 1 pertandingan + edukasi |
| Tuduhan terhadap Nicolás Otamendi oleh Heung-min Son | Tanpa sanksi (tidak terbukti) |
Pola yang konsisten dari kasus-kasus ini adalah bahwa hukuman berat hampir selalu membutuhkan bukti yang sangat kuat.
Laga Sarat Tekanan
Bagi Real Madrid, pertandingan ini bukan hanya tentang memastikan tiket ke babak 16 besar Liga Champions, tetapi juga tentang menunjukkan solidaritas terhadap Vinícius Júnior. Sementara itu, bagi Benfica, absennya Prestianni jelas mengurangi opsi serangan mereka dalam laga hidup-mati ini.
Real Madrid saat ini unggul agregat 1-0 dari pertandingan leg pertama. Namun, Benfica tidak bisa dianggap remeh, mengingat mereka pernah mengalahkan Real Madrid 4-2 di fase liga pada 29 Januari lalu.
Hasil pertandingan mungkin bukan akhir dari cerita ini. Keputusan UEFA setelah laga justru akan menentukan apakah kasus dugaan rasisme ini hanya akan menjadi kontroversi lapangan biasa, atau justru menjadi salah satu putusan disipliner terbesar musim ini.




