Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kegemaran membaca masyarakat Provinsi Aceh pada tahun 2025 mencapai 59,23. Angka ini dipublikasikan dalam laporan Aceh dalam Angka 2026, menunjukkan Kabupaten Pidie sebagai daerah dengan skor tertinggi, sementara Aceh Barat Daya berada di posisi terendah.

Indikator Pra, Saat, dan Pasca Membaca

Indikator tingkat kegemaran membaca ini disusun berdasarkan tiga unsur utama: pra membaca, saat membaca, dan pasca membaca. Pada tahun 2025, nilai tahap pra membaca di Aceh tercatat 54,24, tahap saat membaca sebesar 58,70, dan tahap pasca membaca mencapai 61,92.

Capaian pada tahap pasca membaca yang relatif lebih tinggi menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki aktivitas yang baik dalam memahami serta memanfaatkan bahan bacaan setelah proses membaca.

Pidie dan Aceh Selatan Pimpin Daftar

Secara rinci, Kabupaten Pidie memimpin dengan skor tertinggi, yakni 64,96. Disusul ketat oleh Aceh Selatan dengan nilai 64,40. Beberapa daerah lain juga menunjukkan tingkat kegemaran membaca yang tinggi, antara lain Lhokseumawe (62,90), Aceh Barat (62,21), dan Aceh Jaya (62,14).

Aceh Barat Daya Terendah

Kontras dengan daerah-daerah tersebut, Kabupaten Aceh Barat Daya mencatat nilai terendah dengan skor 23,99. Daerah lain yang masih perlu peningkatan adalah Subulussalam dengan nilai 34,61 dan Simeulue yang mencatat skor 36,01.

Capaian Kota-kota di Aceh

Sementara itu, kota-kota besar di Aceh juga menunjukkan capaian yang bervariasi. Banda Aceh mencatat skor 61,91, Langsa memiliki nilai 59,80, dan Sabang sebesar 51,06.

Pentingnya Indikator Literasi

Menurut BPS, indikator tingkat kegemaran membaca menggambarkan sejauh mana masyarakat memiliki minat, kebiasaan membaca, serta memanfaatkan bahan bacaan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. “Indikator ini juga menjadi salah satu ukuran penting dalam menilai kualitas sumber daya manusia dan perkembangan literasi di suatu daerah,” jelas BPS dalam laporannya.