Semen Padang kembali menelan pil pahit setelah dihajar Bhayangkara Presisi Lampung FC dengan skor telak 0-4 dalam laga lanjutan Super League 2025/26. Kekalahan yang terjadi di Stadion Sumpah Pemuda, Lampung, pada Selasa (24/2) ini memicu kemarahan Penasihat Semen Padang, Andre Rosiade, yang menyoroti dugaan tindakan rasisme oleh hakim garis.
Skuad berjuluk Kabau Sirah yang diasuh Dejan Antonic tak mampu membendung gempuran tuan rumah. Gawang Semen Padang yang dikawal Arthur harus kebobolan empat gol tanpa balas. Moussa Sidibé membuka keran gol pada menit ke-27, kemudian menggandakan keunggulan di menit ke-53. Ryo Matsumura turut menyumbang gol pada menit ke-50, disusul Bernard Doumbia yang mengunci kemenangan Bhayangkara FC di menit ke-74.
Andre Rosiade Kecam Dugaan Rasisme Hakim Garis
Kekalahan telak ini semakin diperparah dengan insiden yang membuat Andre Rosiade berang. Politikus Partai Gerindra tersebut menilai kepemimpinan wasit lengah, terutama setelah hakim garis yang bertugas diduga melontarkan kata-kata rasisme kepada pemain Semen Padang nomor 15, Firman Juliansyah.
Melalui akun media sosial pribadinya, Andre Rosiade menyampaikan kekecewaannya. “Hakim Garis yang memimpin Bhayangkara vs Semen Padang Rasis. Yang bersangkutan menyebut Pemain Semen Padang no.15 sebagai pemain Tarkam dan pemain Kampungan,” tulis Andre, mengutip pernyataan sang hakim garis.
Andre menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas insiden tersebut. “Kalah menang itu biasa tapi kelakuan Hakim Garis seperti ini luar biasa. Kami akan laporkan Hakim Garis ini secara resmi setelah pertandingan selesai,” tambahnya.
Insiden ini sejatinya mencerminkan frustrasi yang dialami Semen Padang, yang sejak awal pertandingan memang kesulitan mendominasi jalannya laga dan harus mengakui keunggulan Bhayangkara FC.




