Aksi protes nasional bertajuk “No Kings” yang menolak kebijakan Presiden Donald Trump berujung ricuh di sejumlah kota di Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Maret 2026. Puluhan orang ditangkap, dengan insiden terparah terjadi di Los Angeles.

Bentrokan pecah di beberapa kota seperti Los Angeles, Portland, Denver, dan Dallas, setelah massa memadati jalanan dan berhadapan dengan aparat keamanan.

Kericuhan di Los Angeles

Di Los Angeles, bentrokan paling parah terjadi di sekitar Metropolitan Detention Center. Polisi menyebut sejumlah provokator mencoba merobohkan pagar kawat dan melemparkan batu, botol, serta bongkahan beton ke arah petugas federal yang berjaga.

Aparat kemudian merespons dengan gas air mata setelah massa mengabaikan peringatan untuk mundur. Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) menetapkan status siaga taktis, sementara petugas antihuru-hara membentuk barisan untuk mengendalikan situasi.

Sekitar pukul 17.30 waktu setempat, polisi mulai menyita barang-barang dari massa dan kembali menggunakan gas air mata. Aksi tersebut kemudian dinyatakan sebagai pertemuan ilegal setelah situasi semakin memanas.

Rekaman di lokasi memperlihatkan sejumlah orang diborgol, termasuk seorang perempuan yang mengenakan kostum Patung Liberty. Video lain menunjukkan seorang pria dijatuhkan oleh agen federal saat bentrokan berlangsung.

Polisi Los Angeles mengeluarkan perintah pembubaran dan memberi waktu 15 menit bagi massa untuk meninggalkan lokasi. Namun, sebagian demonstran tetap bertahan dan mulai ditahan sekitar pukul 18.00.

Pada Minggu, polisi melaporkan total 75 orang ditangkap, terdiri dari delapan anak di bawah umur dan 67 orang dewasa. Sebagian besar ditangkap karena menolak membubarkan diri, sementara satu orang didakwa membawa senjata tajam. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS melaporkan dua petugas federal terluka akibat lemparan bongkahan beton dan harus mendapatkan perawatan medis. Dua orang juga ditangkap dengan tuduhan penyerangan terhadap aparat.

Situasi di Kota Lain

Di Portland, situasi juga memanas setelah aksi utama berakhir, ketika massa berkumpul di luar fasilitas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) dan terlibat bentrokan. Polisi menyebut demonstran melakukan penyerangan dan perusakan sebelum akhirnya membubarkan massa. Hingga Sabtu malam, tiga orang ditangkap.

Sementara di Denver, sembilan orang diamankan setelah sekelompok massa memblokir jalan dan melemparkan tabung asap ke arah petugas. Aparat merespons dengan menembakkan peluru merica dan menetapkan aksi sebagai pertemuan ilegal.

Di Dallas, polisi memisahkan demonstran “No Kings” dengan kelompok tandingan “Pro America” setelah ketegangan meningkat. Setidaknya satu orang ditangkap dalam bentrokan tersebut.

Ketegangan juga terjadi di sekitar Trump National Golf Course di Rancho Palos Verdes, ketika dua pria hampir terlibat perkelahian dalam adu mulut antara peserta aksi dan kelompok tandingan.

Latar Belakang dan Skala Aksi Nasional

Secara nasional, aksi “No Kings” berlangsung besar-besaran. Jutaan orang diperkirakan turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat dalam gelombang ketiga demonstrasi ini. Aksi digelar di seluruh 50 negara bagian serta 16 negara lainnya, dengan lebih dari 3.000 titik demonstrasi.

Gerakan ini diorganisasi oleh sejumlah kelompok, termasuk Indivisible dan 50501, bersama serikat pekerja dan komunitas akar rumput. Sebelumnya, aksi serupa pada Oktober 2025 diikuti sekitar 7 juta orang di seluruh AS.

Para demonstran menyuarakan berbagai isu, mulai dari konflik dengan Iran yang menewaskan 13 personel AS, kenaikan harga barang dan minyak, hingga kebijakan tarif impor yang berdampak pada kebutuhan sehari-hari.

Di Minnesota, ribuan orang berkumpul di depan Gedung Capitol negara bagian untuk aksi utama yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di wilayah tersebut. Sementara di Washington DC, sekelompok ibu asal Palestina menggelar aksi di depan Lincoln Memorial dengan membawa bendera Palestina berukuran besar.

Tanggapan Para Pemimpin

Salah satu penyelenggara, Emily Williams, menyebut aksi ini sebagai ruang bagi masyarakat untuk terlibat. “Banyak orang ingin membantu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. ‘No Kings’ adalah titik awal itu,” ujarnya seperti diberitakan CBS Los Angeles, Senin, 30 Maret 2026.

Presiden Trump sebelumnya menanggapi aksi ini dengan menyatakan, dirinya “bukan raja”. Sementara itu, Ketua DPR AS Mike Johnson menyebut aksi tersebut sebagai “aksi kebencian terhadap Amerika”.

Di sisi lain, Wali Kota Los Angeles Karen Bass menegaskan bahwa aksi damai merupakan bagian dari demokrasi. “Protes damai adalah hak konstitusional kita. Ketika orang berkumpul untuk menyuarakan pendapat, itulah demokrasi,” tegasnya.

Meski penyelenggara menekankan aksi tanpa kekerasan, gelombang demonstrasi “No Kings” kali ini menunjukkan meningkatnya ketegangan di berbagai kota di Amerika Serikat.