Di tengah gempuran budaya populer, kesenian tradisional Cirebon menghadapi tantangan berat untuk bertahan. Namun, upaya pelestarian terus digalakkan oleh generasi muda, salah satunya melalui Sanggar Seni Ninis. Meski demikian, apresiasi saja dinilai tidak cukup; pemerintah dituntut untuk memberikan dukungan dan kebijakan nyata agar kesenian tradisional dapat terus lestari.
Sebelas siswa Sanggar Seni Ninis, yang berusia antara tujuh hingga enam belas tahun, baru-baru ini menjalani ujian Tari Topeng Kelana. Ujian ini diselenggarakan di area shelter Taman Parkir Sumber, bukan sekadar menguji keluwesan gerak, melainkan juga wiraga, wirahma, dan wirasa. Lebih dari itu, ujian ini melatih keberanian serta mental anak-anak saat tampil di hadapan publik.
Pilihan anak-anak ini untuk mendalami kesenian tradisional patut diapresiasi. Mereka berlatih keras, diuji, dan disiapkan untuk menjadi generasi penerus yang akan menjaga warisan budaya Cirebon. Komitmen Sanggar Seni Ninis dalam membina sekitar lima puluh siswa, dari anak-anak hingga dewasa, menjadi bukti nyata dedikasi mereka.
Namun, pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada sanggar, seniman, dan orang tua. Pemerintah daerah juga memiliki peran krusial dan dituntut untuk memberikan kontribusi yang lebih konkret. Kehadiran saat pertunjukan dan pemberian apresiasi seremonial dianggap belum cukup untuk menjamin keberlangsungan kesenian tradisional.
Pertanyaan besar muncul: setelah generasi muda menunjukkan kemauan untuk belajar dan berjuang mempertahankan budaya Cirebon, sejauh mana pemerintah menyiapkan ruang, fasilitas, pembinaan, dan kesempatan agar mereka bisa terus berkarya? Pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan sebagai aset daerah; ia memerlukan kebijakan dan dukungan yang konsisten agar seniman dan generasi muda tidak berjuang sendirian.




