Gampong Emperom, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, telah berhasil mengelola pengangkutan sampah secara mandiri melalui layanan berbasis iuran warga. Sistem ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Melalui layanan ini, sampah diangkut secara berkala langsung dari permukiman warga dan dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Setiap rumah tangga membayar iuran bulanan sebesar Rp14.000 hingga Rp15.000. Layanan kebersihan ini dijalankan secara resmi setelah pemerintah gampong menjalin kerja sama dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan (DLHK3) Kota Banda Aceh.
Legalitas dan Dampak Ekonomi
Sekretaris Gampong Emperom, Mirza Syahputra, menjelaskan bahwa langkah ini telah melalui proses diskusi dan legalisasi. “Sebelum melakukan itu, kita sudah berdiskusi dengan pihak DLHK3 dan melakukan kerja sama melalui MoU. Jadi kesannya tidak liar, legal,” ujar Mirza kepada Pintoe.co.
Sistem ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan dengan menyerap tenaga kerja sebagai petugas pengangkut sampah dan tim penagih iuran di setiap dusun. Petugas penagih mendapatkan insentif melalui sistem bagi hasil dari persentase iuran warga.
Peningkatan Efisiensi Pengangkutan
Untuk mempercepat proses pengangkutan, pemerintah gampong telah mengganti becak roda tiga dengan mobil operasional yang disewa dari BUMG. Penggunaan armada baru ini mempersingkat jeda waktu pengambilan sampah dari permukiman warga.
“Dulu kalau pakai becak, bisa sampai tiga hingga empat hari baru sampah teratasi. Sekarang dengan adanya mobil, jarak jedanya dari pengambilan itu tidak terlalu lama. Jadi hasilnya proses pembusukan sampah itu tidak di tong sampah, langsung di TPA-nya,” kata Mirza.
Sistem pengangkutan sampah ini telah dikelola oleh pemerintah gampong selama hampir enam hingga tujuh tahun. Mulai Januari 2027, pengelolaannya ditargetkan akan dialihkan secara penuh kepada BUMG. Tujuannya adalah untuk mengembangkan unit usaha ini secara lebih profesional dan mengoptimalkan penyerapan Pendapatan Asli Gampong (PAG).
Pengembangan Ekonomi Melalui BUMG Jeumpa Puteh
Selain pengelolaan sampah, Gampong Emperom juga mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui BUMG Jeumpa Puteh. BUMG ini memiliki unit usaha di bidang ketahanan pangan, khususnya penggemukan sapi. Saat ini, Gampong Emperom telah mengelola empat ekor sapi dewasa sebagai langkah awal pengembangan usaha tersebut.
Ketua BUMG Gampong Emperom, Sayed Amrizal, menyatakan bahwa pengembangan ketahanan pangan ke depan akan diarahkan pada konsep pertanian dan peternakan terpadu (integrated farming). “Mungkin untuk ke depan kita fokus di integrated farming dengan menambah luas lahan menjadi kurang lebih 2.000 meter persegi,” ujar Sayed.




