Kantor Jaksa Agung Texas, Amerika Serikat, tengah melakukan penyelidikan serius terhadap LinkedIn, platform profesional terbesar di dunia. Penyelidikan ini berpusat pada dugaan praktik “ghost jobs” atau lowongan kerja palsu yang diduga digunakan untuk mendorong pengguna membeli layanan berlangganan premium.

Penyelidikan Jaksa Agung Ken Paxton

Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, memimpin langsung investigasi ini. Ia menuding LinkedIn melakukan praktik tidak etis dengan memanfaatkan para pencari kerja. Platform tersebut diduga menampilkan lowongan yang sebenarnya sudah tidak aktif, tidak akan diisi, atau bahkan tidak pernah ada.

Modus Operandi: Lowongan Palsu untuk Keuntungan Premium

Inti dari penyelidikan ini adalah dugaan bahwa LinkedIn mempromosikan layanan Premium-nya tanpa mengungkap fakta bahwa sebagian besar lowongan di platformnya tidak benar-benar tersedia. Dengan kata lain, pengguna diiming-imingi peluang kerja yang sebenarnya hanyalah “hantu” demi keuntungan finansial.

Jaksa Agung Paxton menyoroti dua paket berbayar yang ditawarkan LinkedIn: Premium Career seharga 39,99 dolar AS (sekitar Rp 719.500) per bulan, dan Premium Business seharga 69,99 dolar AS (sekitar Rp 1,2 juta) per bulan. Manfaat yang dijanjikan untuk membantu pengguna mendapatkan pekerjaan kini dipertanyakan keabsahannya.

“LinkedIn memiliki kewajiban untuk menyediakan layanan sebagaimana yang diiklankan dan memastikan bahwa konsumen yang membayar langganan Premium memperoleh akses ke lowongan pekerjaan yang sah,” tegas Paxton, dikutip dari Fox 7 Austin.

Data Internal dan Permintaan Investigasi Sipil

Fenomena ghost jobs sendiri sebenarnya bukan rahasia baru di dunia rekrutmen. Namun, investigasi ini mengungkap bahwa praktik tersebut tampaknya sangat masif di LinkedIn. Studi independen yang dikutip Jaksa Agung Texas memperkirakan bahwa sekitar seperlima hingga sepertiga lowongan kerja yang dipublikasikan secara daring merupakan ghost jobs.

Untuk mendalami kasus ini, Jaksa Agung Texas telah menerbitkan Civil Investigative Demand (CID). CID ini bertujuan untuk mengakses dokumen, data, serta komunikasi internal LinkedIn. Data yang akan diinvestigasi mencakup praktik periklanan, pemasaran, verifikasi lowongan kerja, hingga layanan langganan Premium.

Bantahan dari LinkedIn

Menanggapi tekanan ini, pihak LinkedIn angkat bicara. Perusahaan membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa seluruh lowongan kerja di platform wajib bersifat autentik dan disajikan secara akurat.